Politik

Pemerintah RI Harus Tindak Tegas Selamatkan ABK Indonesia dari Perompak Somalia!

Jakarta, Maret.id — Dalam situasi yang mengkhawatirkan, Kapten kapal MT Honour 25, Ashari Samadikun, mengungkapkan kesulitan yang dihadapi oleh dirinya dan para awak kapal yang saat ini berada di tangan perompak Somalia. Dalam sebuah video yang baru-baru ini beredar, Ashari memohon kepada pemerintah untuk memberikan perhatian terhadap nasib mereka yang terperangkap dalam kondisi yang sangat kritis.

Kondisi kapal yang dioperasikan oleh para pelaut asal Sulawesi Selatan tersebut semakin memburuk. “Kami tidak tahu harus bertahan dengan apa. Banyak di antara crew saya yang sakit, mengalami diabetes dan infeksi. Makanan yang kami konsumsi sangat minim, dan kami hanya memiliki akses ke air yang tidak bersih,” ungkap Ashari dalam video yang direkam pada tanggal 20 Juni 2026. Dia menekankan bahwa perusahaan pemilik kapal telah lalai dalam memberikan bantuan kepada mereka yang terjebak.

Tuntutan kepada Pemerintah

Ashari menambahkan bahwa perusahaan yang mengoperasikan kapal MT Honour 25 tidak memberikan respons yang memadai terhadap situasi darurat ini. Dia meminta kepada pemerintah Indonesia untuk turun tangan dan mengintervensi pihak perusahaan agar dapat bertanggung jawab terhadap kesejahteraan para awak kapal. “Kami sangat kesulitan dalam menjalani hidup sehari-hari di sini,” tegasnya.

Kondisi empat pelaut Indonesia yang ditawan sudah berlangsung selama dua bulan. Kementerian Luar Negeri RI melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Nairobi telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, namun upaya tersebut hingga saat ini belum membuahkan hasil yang signifikan.

Dukungan Serikat Awak Kapal

Ketua Serikat Awak Kapal Transportasi Indonesia (SAKTI), Syofyan El Comandante, mengecam lambannya tanggapan dari Kementerian Luar Negeri dalam menangani masalah ini. Dia mendesak pemerintah untuk menekan pemilik kapal MT Honour 25 agar lebih serius dalam melakukan negosiasi dengan perompak. “Kalau pemilik kapal tidak peduli dengan kapal dan crew-nya, sebaiknya lapor ke flag state agar kapal dan muatannya bisa dijual untuk membayar tebusan,” ujar Syofyan dalam wawancara baru-baru ini.

Syofyan juga menjalin komunikasi dengan para perompak yang menyandera MT Honour 25. Dari hasil diskusinya, dia menemukan bahwa para perompak telah menyampaikan permintaan uang tebusan sebesar 3 juta Dolar AS, meskipun sebelumnya jumlah yang diminta adalah sebesar 10 juta Dolar AS. “SAKTI berpendapat bahwa pemilik kapal harus menunjuk negosiator yang kredibel dalam upaya pembebasan para awak kapal,” jelasnya.

Pentingnya Negosiasi yang Efektif

Syofyan mengingatkan bahwa keberhasilan negosiasi sangat bergantung pada kehadiran negosiator yang dapat diterima oleh para perompak. Ia menekankan bahwa ini adalah langkah yang mutlak untuk menyelamatkan para pelaut yang kini berada dalam situasi yang sangat berbahaya. Tanpa tindakan yang cepat dan efektif dari pihak terkait, nasib para awak kapal masih akan menjadi tanda tanya besar.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button