Nasional

Peneliti Penerima LPDP Mengungkapkan Kekecewaan Terhadap Pemerintah yang Tidak Mendengar Isu Korupsi MBG yang Sudah Terjadi

Jakarta, Maret.id — Founder CELIOS yang juga seorang peneliti penerima beasiswa LPDP, Media Askar Wahyudi, mengkritik keras tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Ia mengungkapkan kemarahannya akibat tidak adanya respons terhadap peringatan yang disampaikan melalui kajian akademik sebelum program dilaksanakan. Dugaan korupsi serta permasalahan lain yang diprediksi sebelum pelaksanaan kini mulai terungkap.

Dalam program Satu Meja Kompas TV, Wahyudi menjelaskan bahwa sejak 2024, pihaknya telah menyusun studi yang memetakan berbagai risiko dalam pelaksanaan MBG. Risiko tersebut meliputi potensi korupsi, pembentukan vendor besar, pengawasan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan risiko keracunan.

Namun, berbagai masukan dari studi tersebut tidak direspons secara memadai oleh pemerintah sebelum program dijalankan. “Kalau bicara soal mendengar masukan, masukan itu seharusnya diterima sebelum kebijakan dijalankan,” kata Wahyudi.

Menurutnya, masalah yang muncul saat ini seharusnya dapat dicegah jika kebijakan dikembangkan berdasarkan kajian akademik yang solid dan dilengkapi uji coba yang memadai. Ia menyayangkan kondisi yang terjadi setelah program berjalan sekitar satu setengah tahun, di mana peringatan-peringatan justru menjadi kenyataan.

“Dan kalau boleh jujur, setelah satu setengah tahun, apakah saya marah? Ya, saya marah. Saya penerima beasiswa LPDP. Saya ingin tidak ada korupsi, dan kami sudah mengeluarkan studi itu. Namun, sekarang korupsi benar-benar terjadi,” tegasnya.

Wahyudi mendukung langkah-langkah seperti penangkapan, perombakan pimpinan, dan moratorium di BGN, namun menegaskan bahwa semua ini sudah terlanjur terjadi.

“Menurut hemat saya, pemerintah tidak mendengar. Sudah satu setengah tahun kerusakan terjadi. Lumbung sudah terbakar, korupsi sudah terjadi,” ucapnya. Ia menambahkan bahwa enam bulan sebelum MBG dijalankan, data yang dikumpulkan sudah menunjukkan bahwa 46% masyarakat mencium adanya potensi korupsi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button