BMKG Minta Masyarakat Hemat Air Hadapi El Nino untuk Mengurangi Dampak Kekeringan di Indonesia

Jakarta, Maret.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat agar waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi yang disebabkan oleh fenomena El Nino. Dijelaskan bahwa El Nino akan memperpanjang dan mengeringkan musim kemarau di Indonesia.
Ketua Tim Kerja Prediksi Bulanan BMKG, Supari menyatakan, “El Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau dapat menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-ratanya,” ucap Supari. Ia menekankan bahwa dampak yang perlu diperhatikan adalah bencana hidrometeorologi kering, seperti kekeringan dan kebakaran hutan.
Supari menjelaskan bahwa curah hujan di Indonesia diprediksi akan berkurang, terutama dari Juni hingga November 2026. El Nino saat ini telah aktif dan diprediksi akan berlangsung hingga awal 2027. Dampak dari fenomena ini mencakup meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, serta penurunan kualitas udara akibat polusi yang meningkat.
Sementara itu, beberapa wilayah di Indonesia seperti Sumatra bagian selatan dan Kalimantan bagian selatan, diperkirakan akan mengalami hujan, tetapi jumlahnya jauh di bawah normal. Supari menghimbau pemerintah dan masyarakat untuk melakukan upaya mitigasi, terutama dalam penghematan air.
“Pemerintah perlu memastikan embung atau waduk tetap terisi dan irigasi teknis berfungsi dengan baik. Selain itu, memperbanyak sumur dan pompa air sangat dianjurkan,” jelasnya. Untuk sektor pertanian, Supari menyarankan agar masyarakat memilih komoditas yang memiliki ketahanan terhadap kekeringan.
Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan oleh masyarakat dan pemerintah. “Kondisi kemarau yang lebih kering dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi tebu dan tambak garam,” ucapnya.



