Hall of Fame XIV Pelé Sang Raja Sepak Bola Legenda Tak Terlupakan dunia

Jakarta, Maret.id — Dunia sepak bola mengenal Edson Arantes do Nascimento, atau lebih dikenal sebagai Pelé, pada musim panas 1958. Saat itu, ia berusia tujuh belas tahun dengan senyuman yang malu-malu dan bakat yang menjanjikan.
Sebelum Piala Dunia Swedia dimulai, Pelé mengalami cedera lutut dan datang ke turnamen dalam kondisi kurang fit. Pelatih Vicente Feola awalnya memilih José Altafini, yang kemudian dikenal sebagai “Mazzola,” dan Pelé harus menunggu di bangku cadangan selama dua pertandingan awal melawan Austria dan Inggris.
Keputusan itu tampak bijak pada awalnya, tetapi bakat Pelé terlalu besar untuk tidak dimanfaatkan. Menjelang pertandingan penting melawan Uni Soviet, Feola akhirnya mengganti Altafini dengan Pelé serta Garrincha, sebuah keputusan yang menjadi salah satu momen paling bersejarah bagi Seleção.
Sejak saat itu, Piala Dunia Brasil berubah drastis. Di perempat final melawan Wales, Pelé mencetak gol yang membantu timnya untuk melanjutkan ke semifinal, di mana ia menghancurkan Prancis dengan hat-trick. Setelah itu, final melawan tuan rumah Swedia pun menanti.
Pada sore yang bersejarah di Stockholm, Pelé menjadi lebih dari sekadar talenta muda. Dengan golnya yang luar biasa, ia mengubah jalannya pertandingan, menunjukkan kreativitas dan keberanian yang menjadi cirinya. Brasil akhirnya menang 5-2, meraih gelar Piala Dunia pertama mereka.
Perayaan kemenangan itu disertai dengan air mata Pelé di lapangan, memenuhi janji kepada ayahnya, Dondinho. “O Rei” telah lahir, dan dunia pun mencermati prestasi luar biasanya.
Setelah itu, Santos FC menjadi sarana bagi Pelé untuk dikenal lebih luas. Meski pada tahun 1960-an menonton pertandingan di televisi belum umum, Santos selalu menggelar tur ke berbagai belahan dunia, termasuk Afrika dan Eropa, di mana setiap pertandingan dipadati penonton.
Dengan Pelé di lapangan, Santos meraih 26 trofi, termasuk 10 gelar juara liga dan dua Copa Libertadores. Namun, perjalanan Pelé di Piala Dunia tidak selalu mulus. Pada 1962, ia mengalami cedera yang membuatnya absen di sisa turnamen meskipun Brasil tetap juara.
Karier Pelé bersama Santos berlangsung dengan kesuksesan dan banyak pertandingan persahabatan. Pernyataan bahwa gencatan senjata diumumkan selama perang saudara di Nigeria demi menyaksikan pertandingannya mencerminkan betapa populernya ia saat itu.
Pada 19 November 1969, jari-jari penantian panjang Brasil akhirnya terjawab dengan gol ke-1.000 Pelé. Ketika ia mencetak gol dari titik penalti, suasana di Maracanã berubah menjadi momen perayaan besar. Dalam momen emosional tersebut, Pelé mengingatkan untuk tidak melupakan anak-anak miskin. “Mari kita bantu semua orang, demi Tuhan,” ujar Pelé.
Sang juara dengan penuh kemanusiaan ini menjelma menjadi simbol nasional yang terukir dalam ingatan sepak bola dunia.
Berita mengenai Pelé dan prestasinya menciptakan reaksi positif di kalangan penggemar sepak bola Indonesia. “Kami sangat mengagumi Pelé sebagai ikon sepak bola yang menginspirasi banyak generasi di seluruh dunia,” kata seorang penggemar sepak bola lokal.





