Menkes Mau Penderita TB Jadi Prioritas MBG, Gimana?

Jakarta, Maret.id — Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengusulkan agar penderita tuberkulosis (TB) menjadi salah satu kelompok prioritas penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Usulan itu disampaikan karena Indonesia masih mencatat sekitar satu juta kasus TB setiap tahun dengan angka kematian mencapai 160 ribu jiwa.
Usulan Perluasan Sasaran MBG
Budi menjelaskan bahwa selain anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, penderita TB perlu dimasukkan dalam sasaran MBG. Ia menekankan bahwa dukungan gizi yang memadai dapat memperbesar peluang kesembuhan pasien TB yang sedang menjalani pengobatan.
Alasan Kesehatan dan Data Epidemiologi
Menurut Menkes, kombinasi pengobatan medis dan pemenuhan gizi yang baik akan meningkatkan efektivitas pengobatan TB. Data yang disampaikan menunjukkan beban penyakit TB masih tinggi sehingga intervensi gizi dinilai sebagai bagian penting dari strategi penanggulangan.
Budi menyampaikan pernyataan itu usai peluncuran Komisi The Lancet Regional Health-Western Pacific bertajuk Reimagining Healthcare in Indonesia for 2045 di Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Senin, 22 Juni 2026. Ia mengingatkan bahwa setiap beberapa menit terdapat korban jiwa akibat TB, sehingga penanggulangan harus bersifat komprehensif.
Koordinasi dengan Badan Gizi Nasional
Usulan perluasan sasaran MBG telah disampaikan kepada Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S Deyang, dan mendapat respons positif. Menkes menyebut kemungkinan adanya penyesuaian peraturan pelaksana agar program bisa menjangkau kelompok dengan kebutuhan gizi tinggi.
Budi menuturkan bahwa skema penerima manfaat bisa diubah tanpa mengorbankan program yang sudah berjalan di sekolah-sekolah. Ia menegaskan bahwa penambahan sasaran tidak berarti mengurangi perhatian pada anak sekolah melainkan memperluas cakupan untuk kelompok rentan lainnya.
Pemerintah saat ini, menurut Budi, bersama Badan Gizi Nasional dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sedang membahas penguatan sasaran MBG. Evaluasi dampak program akan dijalankan melalui data pemeriksaan kesehatan dan status gizi untuk memastikan kebijakan berbasis bukti.
Budi juga meminta perhatian khusus terhadap ibu hamil, ibu menyusui, dan balita karena ketiga kelompok tersebut memiliki kebutuhan gizi tinggi yang menentukan kualitas kesehatan ibu dan anak. Ia menekankan pemenuhan gizi bagi ibu hamil penting untuk menekan risiko masalah kesehatan pada ibu dan bayi, serta mendukung pemberian ASI optimal pada dua tahun pertama kehidupan anak.
Pemerintah berharap kombinasi intervensi gizi dan pelayanan kesehatan akan menurunkan angka kematian dan meningkatkan angka kesembuhan TB. Langkah selanjutnya adalah merumuskan skema pelaksanaan teknis dan alokasi anggaran yang memungkinkan program MBG menjangkau kelompok tambahan tersebut.
Para pemangku kebijakan akan menelaah opsi perubahan regulasi dan mekanisme distribusi agar intervensi gizi dapat diimplementasikan secara efektif. Jika langkah ini berjalan, penanganan TB di Indonesia diharapkan menjadi lebih menyeluruh dengan memasukkan aspek gizi sebagai bagian dari perawatan standar.