Politik

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Menjadi Kado Ulang Tahun Presiden Jokowi yang Kontroversial

Jakarta, Maret.id — Penahanan dua tokoh politik, Roy Suryo dan Dr. Tifa, menarik perhatian publik. Direktur Pusat Riset Politik, Hukum, dan Kebijakan Indonesia (PRPHKI), Saiful Anam, menyatakan bahwa momentum penahanan ini sulit dilepaskan dari berbagai spekulasi yang berkembang di masyarakat.

“Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa bisa dengan mudah dibaca bukan sekadar proses hukum biasa, melainkan pesan politik yang sangat simbolik,” ujarnya Saiful.

Ia menambahkan bahwa waktu penahanan yang berdekatan dengan ulang tahun Presiden Joko Widodo pada 21 Juni menimbulkan spekulasi publik. Roy Suryo dan Dr. Tifa ditangkap pada 19 Juni, sebelum akhirnya dilimpahkan ke Kejaksaan.

“Ini seperti kado yang tidak dibungkus, sebuah demonstrasi kekuasaan yang ingin dilihat publik bahwa meski tak lagi menjabat, pengaruhnya belum benar-benar pudar,” tuturnya Saiful.

Saiful juga mengemukakan bahwa situasi ini dapat memperkuat narasi bahwa Jokowi masih memiliki pengaruh besar terhadap berbagai institusi negara. “Narasi bahwa Jokowi masih sakti mandraguna justru semakin menemukan panggungnya di situasi seperti ini,” imbuhnya.

Di sisi lain, ia mengingatkan adanya potensi bahaya jika publik mulai meragukan independensi aparat penegak hukum. “Jika persepsi ini terus menguat di publik, maka kepercayaan terhadap independensi aparat hukum bisa runtuh pelan-pelan. Negara hukum berubah jadi sekadar slogan, sementara praktiknya dikendalikan oleh figur yang seharusnya sudah berada di luar lingkar kekuasaan formal,” tegas Saiful.

Terakhir, ia mengemukakan bahwa situasi ini juga dapat mempengaruhi persepsi publik terhadap posisi Presiden Prabowo Subianto dalam menjalankan pemerintahan. “Dalam konteks ini, posisi Prabowo menjadi sangat rentan,” tuturnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button