Politik

Di Bawah Denting Lesung dan Doa Petani, Trenggalek Menjaga Harapan Swasembada Pangan dalam Keterlibatan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur

Jakarta, Maret.id — Malam tirakatan Hari Krida Pertanian ke-54 di Trenggalek diadakan sebagai ungkapan syukur para petani atas hasil panen serta harapan untuk mencapai swasembada pangan. Acara ini menggabungkan tradisi, budaya, dan semangat gotong royong di Agropark Trenggalek.

Pada malam yang khidmat, para petani dari berbagai kecamatan berkumpul dengan rasa syukur, bukan sekadar untuk merayakan hasil panen mereka. Momen ini diisi dengan kegiatan sederhana namun penuh makna, menandai peringatan penting bagi masyarakat agraris di Kabupaten Trenggalek.

Bagi masyarakat setempat, Hari Krida Pertanian bukan hanya sekadar agenda tahunan. Acara ini menjadi pengingat bahwa kehidupan daerah ini bergantung pada tangan para petani yang setiap hari bekerja keras di ladang dan sawah.

Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi, menekankan pentingnya memperkuat sektor pertanian menuju swasembada pangan. “Karena di Trenggalek, lahan pertanian cukup luas dan petaninya tersebar di banyak kecamatan. Mereka adalah bagian penting dari pembangunan daerah,” ujar Doding.

Ia juga menegaskan bahwa kesejahteraan petani harus menjadi perhatian utama. “Parameter keberhasilan di bidang pertanian adalah ketika petani bahagia dengan panen yang melimpah,” katanya.

Acara malam itu menjadi penghubung antara tradisi dan harapan. Selama doa bersama, ritual jamasan Pusaka Among Tani digelar untuk menghormati sejarah dan budaya pertanian.

Suara lesung mulai terdengar ketika beberapa perempuan petani memukul lesung secara bergantian. Irama khas tersebut menghidupkan kembali kenangan tradisi gotong royong di desa. “Setidaknya ini juga menjadi bagian dari nguri-uri budaya leluhur,” sambung Doding, yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Trenggalek.

Bagi para petani yang hadir, malam tersebut lebih dari sekadar seremoni. Ia adalah ungkapan syukur atas panen yang telah dilalui dan doa untuk masa depan. Meski dihadapkan pada berbagai tantangan seperti perubahan cuaca dan fluktuasi harga, harapan tetap tumbuh di antara mereka.

Puncak acara ditandai dengan ambengan dan selamatan bersama, di mana hidangan sederhana disajikan tanpa sekat jabatan atau status sosial. Suasana kekeluargaan yang hangat menyelimuti acara tersebut.

Kehadiran unsur Forkopimda, kelompok tani, penyuluh pertanian, serta Wakil Bupati Trenggalek, Syah Muhammad Natanegara, menegaskan bahwa urusan pertanian adalah tanggung jawab bersama.

Di bawah langit malam Trenggalek, denting lesung perlahan mereda, tetapi doa-doa para petani masih menggema. Sebuah harapan sederhana terus dijaga: sawah subur, panen melimpah, petani sejahtera, dan cita-cita swasembada pangan yang dapat terwujud.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button