Prabowo Bongkar Kebocoran Negara Rp2.500 Triliun per Tahun, Gaji Guru Sulit Naik Karena Anggaran Terkuras oleh Praktik Korupsi

Jakarta, Maret.id — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengungkapkan bahwa kebocoran penerimaan negara diperkirakan mencapai Rp2.500 triliun setiap tahun. Hal ini menjadi salah satu penyebab utama anggaran negara tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan strategis, termasuk peningkatan kesejahteraan guru dan aparatur sipil negara (ASN).
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo dalam acara Penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) 2026 di Bangkalan, Surabaya, Jawa Timur, pada Selasa, 23 Juni 2026. Dia juga menyoroti masalah kekayaan Indonesia yang secara sistemik mengalir keluar.
“Saya ingin sampaikan dalam forum ini, karena saya ingin saudara-saudara NU sebagai pemimpin, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai pembimbing rakyat, harus mengerti, kenapa gaji guru tidak bisa baik? Kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik? Kenapa anggaran selalu kurang? Karena uangnya tidak ada, diambil terus,” ucap Prabowo.
Ia menggarisbawahi praktik under invoicing yang sering dilakukan oleh pengusaha, yang berpotensi mengakibatkan kerugian besar bagi negara. “Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi,” kata Prabowo.
Ia menyebutkan bahwa Indonesia menderita kerugian sekitar 150 miliar USD atau sekitar Rp2.500 triliun setiap tahun, menurut perhitungan para ahli. Kekayaan yang seharusnya dimanfaatkan untuk pembangunan domestik, justru hilang entah ke mana.
“Kebocoran kita, kita hitung, para ahli hitung sekarang adalah kurang lebih 150 miliar (USD) tiap tahun, Rp2.500 triliun tiap tahun,” ucapnya.
Sebagai langkah perbaikan, Prabowo menjelaskan bahwa pemerintah terus berupaya untuk menutup celah kebocoran anggaran. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah melalui PT Danantara Sumber Daya Indonesia (PT DSI) untuk eksploitas banyak komoditas sumber daya alam (SDA) strategis.





