Eko Wahyono Usulkan Tiga Strategi Marhaenisme untuk Gen

Jakarta, Maret.id — Wakil Ketua Bidang Kaderisasi dan Ideologi DPC PDI Perjuangan Surabaya, Eko Wahyono, mengemukakan tiga pendekatan untuk membumikan nilai-nilai Marhaenisme di kalangan Generasi Z.
Menurutnya, tantangan saat ini bukan terletak pada relevansi ajaran Bung Karno, melainkan pada cara menyampaikannya agar lebih dekat dengan karakter generasi yang hidup di era digital.
Eko berpendapat bahwa stigma yang menyatakan Gen-Z sebagai kelompok apolitis dan apatis tidak mencerminkan kenyataan. Dia mencatat bahwa berbagai gerakan sosial dan aksi mahasiswa dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tingginya kepedulian anak muda terhadap isu kebangsaan.
“Generasi Z tidaklah apolitis dan apatis, melainkan generasi yang gerakannya berbasis pada akurasi isu dan data,” tutur Eko.
Dia juga mencatat bahwa karakter perjuangan Gen-Z memiliki kesamaan dengan Soekarno muda, yang membangun gerakan politik berdasarkan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Karakteristik yang dimiliki oleh kebanyakan Generasi Z memiliki kesamaan dengan perilaku Soekarno muda yang memang berfokus pada isu serta kebijakan,” imbuhnya.
Eko kemudian merinci tiga strategi agar Marhaenisme tetap relevan bagi generasi muda. Pertama, ia mengusulkan untuk mengaitkan nilai-nilai Marhaenisme dengan isu-isu kontemporer yang dekat dengan kehidupan Generasi Z, seperti kesejahteraan pekerja ekonomi digital dan pengemudi ojek online.
Kelompok tersebut dianggapnya mencerminkan konsep Marhaen, yaitu memiliki alat produksi sendiri namun masih menghadapi tekanan sistem ekonomi.
Kedua, ia menekankan pentingnya mengubah metode penyampaian ideologi agar lebih sesuai dengan karakter generasi digital. Eko mengatakan bahwa ceramah panjang tidak lagi efektif, dan perlu memanfaatkan media sosial serta konten visual yang menarik sambil tetap mempertahankan substansi pemikiran Bung Karno.
Ketiga, ia mendorong penguatan kaderisasi berbasis pengalaman melalui diskusi kelompok, lokakarya, dan kegiatan advokasi masyarakat. Eko percaya bahwa metode partisipatif lebih mudah diterima oleh generasi muda dibandingkan pola pembelajaran satu arah.
Alumnus Universitas Airlangga ini menegaskan bahwa pembaruan strategi tersebut bukan untuk mengubah nilai dasar Marhaenisme, melainkan untuk memastikan ideologi ini tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.
“Melalui pembumian gagasan ideologi Marhaenisme terhadap Generasi Z, hal tersebut berimplikasi bahwa ideologi harus menjadi alat bedah analisis, bukan hanya sekadar rapalan mantra belaka,” tegasnya.





