Nasional

Pemerintah Sampaikan Duka Mendalam Atas Meninggalnya Peserta Latsarmil

Jakarta, Maret.id — Pemerintah Indonesia menyampaikan duka yang mendalam atas wafatnya lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) 2026. Kelima peserta tersebut meninggal dunia saat mengikuti Latihan Bela Negara dan Manajerial (Latsarmil).

Kementerian Pertahanan (Kemhan) menegaskan akan memperkuat aspek kesehatan dan pengawasan medis agar keselamatan seluruh peserta program terjamin. “Evaluasi menyeluruh akan dilakukan berdasarkan arahan dari Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin,” ucap Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan.

Menteri Sjafrie menekankan pentingnya keselamatan peserta sebagai prioritas utama dalam penyelenggaraan program. Arahan lainnya meliputi pengawasan medis, profiling kesehatan, penyesuaian intensitas kegiatan, serta sistem rujukan dan mekanisme deteksi dini bagi peserta dengan faktor risiko.

Penyelenggara akan melaksanakan pemeriksaan kesehatan lanjutan dan penyesuaian intensitas kegiatan sesuai kondisi peserta. Penguatan pengawasan medis di satuan pendidikan juga menjadi fokus utama.

Kemhan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan sistem pencegahan dan penanganan penyakit yang mungkin dialami peserta selama pendidikan. “Kami berkomitmen untuk melakukan evaluasi dan perbaikan agar penyelenggaraan program semakin aman dan profesional,” ujar Ketut dalam keterangan pers.

Kelima peserta yang meninggal adalah Yonanda Muhammad Taufiq dari Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Anisa Muyassaroh dari Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, Novia Rahmadhani Sihotang dari Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dari Satdik Yon PARAKO 465, dan Nola Dya Sari dari Satdik C Kalimantan.

Ketut menjelaskan bahwa semua peserta yang mengalami gangguan kesehatan telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur. “Mulai dari fasilitas kesehatan di satuan pendidikan hingga rujukan ke rumah sakit untuk perawatan lanjutan,” ucapnya.

Sebagai langkah mitigasi, penyelenggara telah melakukan pemeriksaan kesehatan lanjutan dan isolasi terhadap peserta yang memerlukan. Mereka juga berkoordinasi intensif dengan rumah sakit dan fasilitas kesehatan TNI.

Ketut menambahkan bahwa kelima peserta memiliki kondisi medis yang berbeda-beda. Sebelum mengikuti pendidikan, mereka telah menjalani pemeriksaan kesehatan yang menyeluruh.

Penyelenggara juga akan mengevaluasi mekanisme pelaksanaan program agar lebih adaptif terhadap kondisi peserta. Metode pembelajaran ke depan akan memperhatikan kondisi psikologis peserta melalui pendekatan edukatif yang membangun kerjasama dan kemampuan memecahkan masalah.

Kemhan berkomitmen untuk memastikan penyelenggaraan program yang semakin aman, profesional, dan akuntabel. Mereka juga memastikan seluruh keluarga korban mendapatkan pendampingan, mulai dari pemulangan jenazah hingga penyelesaian hak-hak peserta yang bersangkutan. “Kami akan terus melakukan evaluasi dan perbaikan untuk keselamatan peserta,” ujar Ketut.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button