Pupuk Bersubsidi Terjaga, Produksi Beras Indonesia Meningkat

Jakarta, Maret.id — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa ketersediaan pupuk bersubsidi yang terjaga memainkan peran penting dalam peningkatan produksi beras nasional. Hal ini berlangsung meski dunia menghadapi tantangan krisis pangan dan dampak perubahan iklim.
Pemerintah juga menurunkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sejak akhir 2025. “Ketika petani di banyak negara menghadapi pupuk yang langka dan mahal, Pemerintah Indonesia justru menurunkan HET pupuk bersubsidi sebesar 20 persen,” ucap Amran dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.
Menurutnya, dukungan pemerintah bagi petani menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan global. Ini termasuk dampak perubahan iklim dan volatilitas harga pupuk internasional.
Optimisme Amran didukung oleh laporan Food Outlook dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) edisi Juni 2026. Dalam laporan tersebut, Indonesia tercatat sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan menduduki peringkat keempat dunia dengan proyeksi produksi mencapai sekitar 38,6 juta ton.
Di sisi lain, produksi beras global diperkirakan akan turun sekitar 1,6 persen akibat perubahan iklim dan gangguan pasokan. Amran menilai hal ini menunjukkan bahwa Indonesia mampu meningkatkan produksi, meskipun banyak negara menghadapi tekanan dari cuaca ekstrem dan tingginya biaya produksi pertanian.
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah, memastikan stok pupuk bersubsidi mencukupi kebutuhan petani hingga musim tanam berikutnya. Hingga 25 Juni 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 54,28 persen dari total alokasi nasional sebesar 9,55 juta ton.
“Artinya, masih tersedia sekitar 45,72 persen atau kurang lebih 5,1 juta ton pupuk bersubsidi yang siap dimanfaatkan petani di seluruh Indonesia,” ucap Nur Alam Syah. Pemerintah terus memastikan distribusi pupuk berjalan lancar dan tepat waktu.
Distribusi juga dipercepat agar petani segera dapat memanfaatkan pupuk untuk peningkatan produksi. Pemerintah mengantisipasi potensi dampak fenomena El Nino terhadap sektor pertanian.
Karenanya, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani didorong untuk memanfaatkan pupuk bersubsidi dan alat serta mesin pertanian modern. “Semakin cepat tanam dilakukan pada kondisi yang masih memungkinkan, semakin besar peluang menjaga bahkan meningkatkan produksi pangan nasional,” ujar Andi Nur Alam Syah.
Pada 2026, pemerintah mengalokasikan 9,55 juta ton pupuk bersubsidi. Dengan ketersediaan dan distribusi yang dijaga, peluang untuk mencapai swasembada pangan terus terbuka melalui sinergi kebijakan pemerintah dan kerja keras para petani.



