Olahraga

Tanjung Verde dan Lionel Messi di Piala Dunia 2023: Pemenang dan Pecundang Fase Grup

Jakarta, Maret.id — Babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 berakhir dengan penuh drama pada Sabtu malam. Austria berhasil mencetak gol penyama kedudukan di menit ke-96 melawan Aljazair, sehingga mereka lolos ke babak gugur dan menyingkirkan Iran, yang sebelumnya dipastikan melaju dengan status peringkat ketiga terbaik.

Di sisi lain, Lionel Messi, yang masuk sebagai pemain pengganti, membantu Argentina mempertahankan rekor kemenangan sempurna dengan mengalahkan Yordania 3-1. Dengan gol tersebut, Messi memperpanjang catatan golnya di babak final menjadi 19, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa dunia.

Sementara itu, Cristiano Ronaldo tidak bisa membawa Portugal meraih kemenangan melawan Kolombia. Mereka hanya mampu bermain imbang tanpa gol di Miami. Pada laga lain, DR Kongo berhasil bangkit dari ketertinggalan dan meraih kemenangan atas Uzbekistan, memastikan tempat di babak 32 besar, bersamaan dengan Kroasia yang meraih kemenangan dramatis melawan Ghana di menit ke-83.

Keberhasilan tim tuan rumah juga menjadi sorotan. Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, yang menempati grup lebih mudah, semua berhasil lolos ke babak gugur. Kemenangan Meksiko dalam dua laga awal memastikan mereka akan bermain di kandang sendiri, sementara Kanada mengukir sejarah meskipun kalah 2-1 dari Swiss, mereka tetap melaju ke fase knock-out.

Di sisi lain, Tunisia menjadi salah satu pecundang terbesar setelah Sabri Lamouchi dipecat setelah kekalahan telak 5-1 dari Swedia. Masalah yang lebih mendalam terkait pengelolaan tim nasional turut berperan dalam kegagalan mereka di Piala Dunia ini.

Sebastian Beccacece mendapat pujian setelah kemenangan dramatis Ekuador 2-1 atas Jerman, yang dianggap sebagai kemenangan terbesar bagi Ekuador di Piala Dunia. “Kami bekerja keras untuk ini,” kata Beccacece.

Wisata negara juga menjadi sorotan. Meski Iran tersingkir dari turnamen, mereka berhasil meninggalkan jejak penting dengan permainan mereka, menunjukkan bahwa mereka adalah tim yang tertekan secara politik. “Kami adalah tim yang paling tertindas dalam sejarah Piala Dunia,” ujar Amir Ghalenoei, pelatih Iran.

Sementara Turki mengecewakan banyak penggemar setelah finis di dasar grup meski awalnya dianggap sebagai ‘kuda hitam’. “Semua orang sedih,” ungkap gelandang Arda Guler setelah kekalahan mereka dari Australia.

Dari sisi positif, Afrika menyaksikan kesuksesan yang lebih besar dengan 10 tim berpartisipasi, dan hanya Tunisia yang gagal melanjutkan ke fase knock-out. “Sekarang, semua tim Afrika bisa bermimpi,” ujar Yoane Wissa setelah DR Kongo melaju ke 32 besar.

Dalam komentar mengenai turnamen ini, presenter olahraga Indonesia, Rafi Ahmad, menyebut, “Luar biasa melihat bagaimana tim-tim dari Afrika semakin bersinar di panggung dunia. Ini adalah momen yang membanggakan bagi sepak bola global.”

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button