Dana GCA Diharapkan Stabilkan Nilai Tukar Rupiah di Indonesia

Jakarta, Maret.id — Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, mengklaim adanya rekening induk serta sejumlah rekening turunan yang menjadi bagian dari sistem keuangan internasional.
Dia menyatakan bahwa jika rekening-rekening tersebut dapat diaktifkan berdasarkan mekanisme yang berlaku, dampaknya akan signifikan terhadap stabilitas keuangan global, termasuk nilai tukar rupiah.
Amir berpendapat bahwa pinjaman dari International Monetary Fund (IMF) selama ini menunjukkan ketergantungan yang menyulitkan banyak negara keluar dari tekanan ekonomi. “Pinjaman IMF adalah jebakan. Karena itu dulu ada pihak-pihak yang menolak skema tersebut, tetapi kemudian terus mendapat tekanan melalui sistem dolar,” kata Amir.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki peluang untuk membangun kerja sama ekonomi yang lebih luas dengan negara-negara lain, tanpa mengandalkan lembaga keuangan internasional.
Amir juga mengemukakan dugaan terkait keberadaan dana dalam rekening yang disebut terkait dengan “M-One”. Dia mengklaim terdapat dana sekitar Rp5.800 triliun yang pernah ditransfer ke sebuah rekening di Bank Mandiri dan hingga kini belum bisa dimanfaatkan.
Hambatan pencairan dana tersebut, menurut Amir, berkaitan dengan masalah administrasi, termasuk klaim bahwa pemegang rekening telah meninggal dunia. Amir melanjutkan, pada era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pernah ada upaya untuk mencairkan dana tersebut.
Namun, klaimnya, proses itu terhambat oleh berbagai kendala administratif, termasuk persoalan otorisasi dan tanda tangan. “Kalau memang seluruh persyaratan dapat dipenuhi sesuai ketentuan hukum dan sistem perbankan internasional, pemerintah perlu mengambil langkah politik agar aset tersebut dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan bangsa,” tutup Amir.





