Olahraga

Tiang gantungan didirikan di Berlin tuntutan pemenggalan setelah kekalahan pahit

Jakarta, Maret.id — Sepak bola Jerman kini tengah menghadapi babak baru penuh kontroversi setelah tim nasional tersingkir secara mengejutkan dari Piala Dunia 2026. Kekalahan dari Paraguay melalui adu penalti telah diidentifikasi sebagai salah satu kegagalan paling pahit dalam sejarah “Die Mannschaft” modern.

Laporan dari surat kabar “Kicker” dan jaringan “Sky Deutschland” menunjukkan bahwa suasana kekecewaan telah bertransformasi menjadi kritik yang tajam terhadap pelatih Julian Nagelsmann serta sejumlah pemain bintang. Ada tuntutan yang semakin kuat untuk membangun kembali tim nasional dari nol.

Kapten Joshua Kimmich mengakui bahwa timnya memang pantas tersingkir. “Ini perasaan yang mengerikan. Kami tidak bermain bagus melawan lawan mana pun,” kata Kimmich. “Kami benar-benar pantas tersingkir dari Piala Dunia,” tambahnya. Ia juga mengenang masa kejayaan sepak bola Jerman, berharap bisa memberikan nostalgia tersebut kepada generasi baru.

Kimmich menolak untuk menyalahkan pihak luar. “Kami tidak perlu menyalahkan pelatih, media, atau wasit. Kami lah yang merusak segalanya di lapangan,” ujarnya. Meski demikian, sebagian media dan Nagelsmann masih mengkritik keputusan wasit, khususnya pembatalan gol Jonathan Tah yang dianggap merugikan.

Surat kabar “Kicker” mengatakan bahwa permasalahan lebih dari sekadar keputusan wasit. Tersingkirnya tim lebih mencoreng citra Nagelsmann akibat pilihan teknis yang kontroversial, baik susunan pemain maupun pendekatan taktis. Cedera pemain kunci seperti Serge Gnabry dan Nico Schlotterbeck turut berkontribusi pada kegagalan.

Nagelsmann juga memperoleh kritik karena tetap menempatkan Kimmich sebagai bek kanan, padahal banyak yang merasa ia lebih berpengaruh di lini tengah. Jaringan “Sky Deutschland” menilai seluruh generasi pemain juga bertanggung jawab, dengan pengalaman dari pemimpin seperti Antonio Rüdiger dan Leroy Sané tidak terlihat saat dibutuhkan.

Legenda sepak bola Jerman, Lothar Matthäus, meminta adanya perubahan pelatih setelah turnamen ini. “Saya rasa kita membutuhkan pelatih baru setelah turnamen ini. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” ucapnya.

Mantan bek Mats Hummels menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap tim nasional, menyatakan bahwa performa tim di turnamen besar belum memuaskan sejak Euro 2016. Christian Streich menilai penampilan tim melawan Paraguay sebagai “bencana” dan meminta pelatih serta pemain untuk melakukan introspeksi.

Per Mertesacker menambahkan, “Kita harus melupakan impian meraih gelar dan melipatgandakan upaya kita. Kita menghadapi lawan terlemah di babak gugur dan kita gagal.”

Reaksi dari penggemar sepak bola Indonesia juga tak kalah menarik. “Ini adalah momen belajar bagi tim nasional kita. Jerman adalah contoh nyata bahwa semua bisa terjadi dalam sepak bola,” ujar Fauzi, seorang penggemar berat Bundesliga.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button