Kemenperin Ungkap Penyebab Tekanan Industri Manufaktur Juni

Jakarta, Maret.id — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengumumkan bahwa industri manufaktur menghadapi tantangan lebih berat pada bulan Juni 2026 dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Tantangan ini dipicu oleh kenaikan biaya produksi, lemahnya daya beli masyarakat, dan ketidakpastian kebijakan yang mempengaruhi prospek industri. “Tantangan industri di bulan Juni itu lebih berat dibandingkan bulan Mei. Kalau pada bulan Mei tantangannya hanya pada sisi produksi, pada bulan Juni tantangannya datang dari kedua sisi, yaitu produksi dan permintaan,” kata Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kemenperin, kepada wartawan.
Menurutnya, tekanan pada sisi produksi disebabkan oleh kenaikan harga bahan baku impor akibat pelemahan nilai tukar rupiah, pemadaman listrik, serta tingginya harga gas industri.
Sementara itu, pada sisi permintaan, Kemenperin mencatat adanya tekanan terhadap daya beli masyarakat akibat kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) juga mulai mempengaruhi persepsi pelaku usaha. “Untuk BI Rate sejauh ini dampaknya yang kami tangkap baru pada persepsi, ekspektasi usaha ke depan,” ucap Febri.





