Kemenbud Luncurkan Enam Buku Sastra Klasik dalam Bahasa Asing

Jakarta, Maret.id — Kementerian Kebudayaan bersama Manajemen Talenta Nasional meluncurkan enam buku terjemahan sastra klasik Indonesia. Peluncuran ini berlangsung pada peringatan Hari Sastra Indonesia yang ke-13.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa penerjemahan sastra klasik menjadi bagian integral dari pemajuan kebudayaan. Penerjemahan ini juga berfungsi sebagai instrumen untuk meningkatkan diplomasi budaya Indonesia di kancah internasional.
“Melalui penerjemahan karya klasik sastra Indonesia, kami menegaskan komitmen menjadikan sastra sebagai pilar pemajuan kebudayaan sekaligus diplomasi budaya,” kata Fadli Zon.
Ia menambahkan bahwa ketika sastra Indonesia dibaca oleh masyarakat dunia, hal ini membawa wajah Indonesia ke pentas global. Fadli Zon menekankan pentingnya merawat warisan sastra guna menciptakan karya-karya baru yang berkualitas.
Proses penerjemahan enam buku ini memakan waktu satu tahun. Ini dilakukan oleh para ahli di Laboratorium Penerjemah Sastra untuk memastikan kualitas dan makna terjaga.
Hari Sastra Indonesia yang dirayakan bertepatan dengan peluncuran enam buku ini menjadi momen untuk menghidupkan semangat membaca. Annisa Rengganis, Staf Khusus Menteri Kebudayaan, menyatakan bahwa warisan sastra membantu masyarakat memahami perkembangan kebudayaan sambil menatap masa depan sastra Indonesia.
“Salah satu cara terbaik memperingati Hari Sastra Indonesia adalah kembali membaca warisan sastra para pendahulu bangsa,” ujarnya.
Berikut daftar enam karya sastra klasik yang diterjemahkan:
1. Of Pain and Sorrow (Azab dan Sengsara) karya Merari Siregar 2. Two Worlds (Dua Dunia/Keajaiban di Pasar Senen) karya NH Dini 3. To Lose a Treasure (Kehilangan Mestika) karya Hamidah 4. Barren Land (Tanah Gersang) karya Mochtar Lubis 5. A Green Paper Letter (Surat Kertas Hijau) karya Sitor Situmorang 6. Ballad of The Beloved People (Balada Orang-Orang Tercinta) karya W.S. Rendra



