Politik

PSI Terpuruk: Politisi Kutu Loncat Bikin Arah Partai Hilang!

Jakarta, Maret.id — Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kini dihadapkan pada tantangan besar, yaitu melemahnya solidaritas internal yang dulunya menjadi kekuatan utama partai. Menurut Nurul Fatta, seorang pengamat politik, isu ini lebih krusial dibandingkan sekadar membahas platform atau agenda politik.

Fatta menilai bahwa PSI mulai kehilangan arah setelah banyak politisi yang dikenal sebagai “kutu loncat” bergabung dan menduduki posisi strategis di partai. “Saya memiliki hubungan baik dengan teman-teman PSI dan elit partai, namun sayangnya, PSI kini terlihat kurang solid,” ujar Fatta dalam sebuah wawancara pada Rabu, 13 Mei 2026.

Perlunya Memperkuat Dukungan Internal

Fatta menekankan bahwa sebelum membahas agenda besar, PSI perlu memperbaiki solidaritas internal mereka. Dulu dikenal dengan semangat kolektif yang kuat, kini PSI tampak semakin berantakan. “Kader-kader lama yang berjuang di garis depan kini mulai tersingkir oleh arus politisi baru yang membawa budaya politik tidak sehat,” tambahnya.

Salah satu poin yang disoroti adalah posisi Grace Natalie, sosok yang telah meletakkan pondasi awal PSI. Fatta menilai bahwa dia tidak mendapatkan dukungan yang layak saat menghadapi persoalan politik yang dihadapi PSI. “Bayangkan saja, figur seperti Grace Natalie seolah terpinggirkan,” jelasnya.

Ancaman Budaya Politik Oportunis

Fatta memperingatkan bahwa masuknya politisi oportunis telah mengancam karakter internal partai. Budaya politik transaksional mulai mendominasi, menggerogoti loyalitas dan solidaritas yang pernah ada. “Orang-orang lama yang setia berjuang di garda depan semakin mundur dan kehilangan posisi mereka,” kata Fatta.

Kehilangan solidaritas ini dapat mengakibatkan hilangnya identitas PSI sebagai partai yang memperjuangkan kepentingan rakyat. “Jika kondisi ini terus berlanjut, PSI akan sulit mempertahankan militansi dan identitas politiknya,” tegas Fatta.

Seruan untuk Tindakan Tegas

Di akhir wawancaranya, Fatta meminta Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep, untuk segera mengambil langkah konkret demi menyelamatkan identitas partai. “PSI tidak hanya memerlukan dukungan finansial atau figur populer. Yang paling penting adalah membangun kepercayaan dan rasa kebersamaan di kalangan kader,” ungkapnya.

Dengan tantangan yang ada, PSI harus berusaha untuk merangkul kembali semangat kolektif yang pernah menjadi aset berharga. Tanpa langkah strategis dan soliditas internal, masa depan PSI sebagai partai yang progresif dan peduli terhadap masyarakat bisa terancam.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button