Lokal

Pemkot Jatiwaringin Waspadai Sulitnya Pemadaman Kebakaran TPA Mirip Lahan Gambut

Tangerang, Maret.id — Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengungkapkan tantangan serius dalam pemadaman kebakaran yang terjadi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang. Penyebab utamanya adalah karakteristik api yang menyerupai kebakaran lahan gambut, yang membuat pemadaman menjadi sangat sulit.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, menjelaskan bahwa api tidak hanya membakar permukaan tumpukan sampah, tetapi juga terus menyala di bagian bawah. “Meski bagian atas terlihat padam, namun sumber api di bawahnya masih ada. Maka dari itu, proses pemadaman membutuhkan strategi khusus,” ungkap Diaz dalam pernyataannya pada Sabtu, 4 Juli 2026.

Strategi Pemadaman yang Kompleks

Pemadaman kebakaran di TPA Jatiwaringin tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Diaz menyatakan bahwa karakteristik api yang mirip dengan kebakaran lahan gambut membuatnya berpotensi kembali menyala. Keberadaan gas metana (CH4) di area tersebut juga meningkatkan risiko ledakan. “Kondisi ini membuat kami harus memantau dan menangani kebakaran dengan metode yang lebih cermat dan terencana,” tegasnya.

Untuk membantu proses pemadaman, KLH akan menggunakan teknologi canggih seperti thermal drone yang dilengkapi kamera inframerah. Teknologi ini diharapkan mampu mendeteksi titik-titik panas secara akurat dan menganalisis sumber kebakaran. Selain itu, dua unit mobile monitoring system juga dikerahkan untuk memantau kualitas udara di sekitar lokasi kebakaran.

Dampak Lingkungan dan Kesehatan

Hasil pemantauan terakhir menunjukkan bahwa kualitas udara sempat berada pada tingkat yang sangat membahayakan, dengan indeks kualitas udara mencapai sekitar 1000. Namun, perkembangan terbaru menunjukkan penurunan yang signifikan. Diaz menyatakan bahwa meski kondisi telah membaik, kewaspadaan tetap harus dijaga.

“Pengukuran kadar sulfur dioksida (SO₂), nitrogen dioksida (NO₂), serta partikel halus PM1.0 dan PM2.5 kami lakukan secara berkala untuk memastikan keamanan masyarakat,” tambah Diaz.

Dukungan dari Tim Khusus

Dalam upaya mempercepat pemadaman, pemerintah telah mengerahkan 30 personel Manggala Agni dari Sulawesi dan Jawa Barat. Tim ini memiliki pengalaman dalam menangani kebakaran lahan dan dilengkapi peralatan high pressure untuk menyemprot air ke titik api yang berada di bawah permukaan tumpukan sampah.

“TPA ini kurang efektif jika hanya disiram dari atas. Kami membutuhkan bantuan Manggala Agni untuk melakukan injeksi air hingga ke titik api di bawah,” tegasnya.

Teknologi Modifikasi Cuaca sebagai Solusi

Pemerintah, bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan BMKG, juga tengah mempersiapkan pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk membantu mempercepat proses pemadaman. “Kami berharap operasi TMC dapat segera dilaksanakan. Kebakaran ini melanda area sekitar 15 hektare di TPA Jatiwaringin,” ujar Diaz.

Dengan semua upaya yang dilakukan, diharapkan situasi di TPA Jatiwaringin dapat segera teratasi dan risiko penyebaran api dapat diminimalisir. Petugas yang terlibat dalam pemadaman kebakaran terus bekerja keras untuk memastikan keselamatan masyarakat dan lingkungan sekitar.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button