DPRD Jatim Dukung Pendidikan Vokasi yang Berbasis Kebutuhan Industri

Jakarta, Maret.id — Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur, Wara Sundari Renny Pramana, mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat pendidikan vokasi.
Upaya tersebut meliputi penyelarasan kurikulum, perluasan program magang, sertifikasi kompetensi, dan kemitraan dengan industri.
Langkah ini dianggap penting agar lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki daya saing yang tinggi dan lebih optimal dalam memasuki pasar kerja.
Renny Pramana menyatakan bahwa penguatan pendidikan vokasi adalah kebutuhan mendesak, terutama mengingat proyeksi sekitar 1,53 juta lulusan SMK di Indonesia pada tahun 2026.
“Jangan sampai bonus demografi yang dimiliki Indonesia justru berubah menjadi bonus pengangguran. Lulusan SMK harus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, bukan menambah antrean pencari kerja,” tegas Renny di Surabaya.
Ia menambahkan bahwa lulusan SMK harus dipersiapkan sebagai tenaga kerja terampil yang siap masuk ke dunia usaha dan industri.
“SMK dirancang untuk mencetak tenaga kerja siap pakai. Artinya, negara juga harus memastikan industri mampu menyerap mereka. Pendidikan dan dunia usaha tidak boleh berjalan sendiri-sendiri,” imbuhnya.
Renny juga menilai bahwa pemerintah daerah perlu memperkuat ekosistem pendidikan vokasi melalui penyelarasan kurikulum yang berbasis kebutuhan industri.
Dia menyebutkan bahwa terdapat sektor-sektor seperti manufaktur, industri kreatif, ekonomi digital, dan energi baru terbarukan yang memiliki potensi besar untuk menyerap lulusan SMK dalam waktu dekat.
“Jika kebutuhan industri dan kompetensi lulusan bisa dipertemukan, maka lulusan SMK tidak hanya mudah mendapatkan pekerjaan, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas dan daya saing daerah,” tuturnya.
Renny juga mengapresiasi tren positif ketenagakerjaan di Jawa Timur. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur per Februari 2026, jumlah penduduk yang bekerja mencapai 24,25 juta orang, meningkat sekitar 388 ribu orang dari tahun sebelumnya.
Dia juga mengingatkan bahwa meskipun angka pengangguran menurun, pemerintah harus fokus pada peningkatan kualitas pekerjaan.
“Jawa Timur sudah menunjukkan tren yang baik dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja yang terserap. Tantangan berikutnya adalah memastikan semakin banyak anak muda memperoleh pekerjaan yang layak, produktif, dan memberikan masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.





