Pemuda Katolik dan GAMKI Desak Penegakan Kemanusiaan di Papua

Jakarta, Maret.id — Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik, Stefanus Asat Gusma, bersama Ketua Umum DPP GAMKI, Sahat Martin Philip Sinurat, mengeluarkan pernyataan bersama terkait hak asasi manusia di Jakarta pada 7 Juli 2026.
Gusma menegaskan bahwa kekerasan terhadap pelayanan kemanusiaan adalah pelanggaran serius yang tidak bisa dibenarkan dalam keadaan apapun.
Dia juga mengungkap sejumlah insiden kekerasan terbaru, termasuk pembakaran pesawat misionaris AMA PK-RCY dan penembakan yang mengakibatkan kematian pilot Nicholas F. Goselin, Pendeta Elianus Agimbau, serta sejumlah warga sipil dan aparat keamanan.
“Kami berduka bersama Gereja Katolik di Tanah Papua atas gugurnya seorang pilot yang datang bukan untuk berperang, melainkan untuk melayani masyarakat di wilayah-wilayah terpencil,” kata Gusma.
Dia menegaskan bahwa tindakan pembakaran pesawat dan pembunuhan pilot mencederai harapan masyarakat yang bergantung pada pelayanan kemanusiaan.
Sahat menambahkan bahwa setiap nyawa manusia memiliki martabat yang harus dihormati dan tidak boleh direnggut oleh kekerasan.
Dia memastikan bahwa GAMKI mengecam semua bentuk kekerasan, baik terhadap warga sipil, tokoh agama, maupun aparat negara.
“Tidak ada perjuangan yang memperoleh legitimasi moral ketika dibangun di atas pembunuhan dan teror. Papua membutuhkan ruang dialog, keadilan, dan rekonsiliasi, bukan lingkaran kekerasan yang terus memakan korban,” tegas Sahat.
Ketua Gugus Tugas Papua PP Pemuda Katolik, Melkior Sitokdana, menyerukan agar rangkaian tragedi ini menjadi panggilan moral bagi seluruh bangsa Indonesia untuk menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama.
Melkior juga mendorong pemerintah untuk mengambil langkah konkret dalam memperkuat pelayanan kemanusiaan di Papua, termasuk pemberdayaan sumber daya manusia lokal serta menjamin keamanan tenaga kesehatan dan guru di daerah konflik.
“Kami mendorong pemerintah memperkuat kapasitas putra-putri orang asli Papua agar semakin banyak mengambil peran sebagai pilot, tenaga kesehatan, dan guru di wilayah terpencil,” ujarnya.
Pemuda Katolik dan GAMKI menyatakan bahwa pesan para uskup di Tanah Papua serta seruan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengingatkan bahwa setiap korban kekerasan adalah tragedi kemanusiaan.
“Kami percaya bahwa damai tidak akan lahir dari senjata, melainkan dari keberanian untuk menghormati kehidupan,” tutur Gusma.
Menutup pernyataan bersama, Sahat mengusulkan sejumlah langkah konkret kepada pemerintah.
GAMKI dan Pemuda Katolik mendesak semua pihak untuk menghentikan kekerasan dan menjunjung tinggi martabat manusia.
“Kami juga meminta dilakukan investigasi independen atas pembunuhan warga sipil baru-baru ini dan mendorong dialog damai yang melibatkan gereja, tokoh adat, serta masyarakat sipil,” pungkas Sahat.





