Lokal

Legislator NTB Soroti Keberanian Tolak Proyek Kereta Gantung di Gunung Rinjani!

Mataram, Maret.id — Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, resmi menolak rencana pembangunan proyek kereta gantung di kawasan Gunung Rinjani. Penolakan ini mendapat apresiasi dari Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) NTB, Lalu Arif Rahman Hakim, yang menilai keputusan tersebut diambil setelah melalui kajian mendalam.

Keputusan Berbasis Kajian Mendalam

Lalu Arif menjelaskan bahwa isu pembangunan kereta gantung di Gunung Rinjani bukanlah hal baru. Wacana tersebut sudah beredar selama bertahun-tahun. Menurutnya, keputusan yang diambil oleh pemerintah daerah didasari oleh analisis yang cermat terhadap dampak jangka panjang proyek tersebut bagi masyarakat dan lingkungan di NTB.

“Penolakan ini seharusnya dipahami oleh semua pihak sebagai langkah yang sudah mempertimbangkan berbagai aspek penting,” ungkap Lalu Arif saat konferensi pers di Mataram, Kamis, 14 Mei 2026.

Aspek Sosial dan Lingkungan Perlu Diutamakan

Wakil rakyat ini menekankan bahwa polemik mengenai proyek kereta gantung tidak bisa dilihat dari sudut pandang kesakralan Gunung Rinjani saja. Dilakukan kajian komprehensif akan membantu dalam memperhitungkan faktor-faktor ekonomi, sosial, dan lingkungan, terutama terkait dampak bagi masyarakat di sekitar kawasan wisata.

“Setiap proyek wajib dilihat secara menyeluruh, mulai dari dampak positif hingga negatifnya terhadap masyarakat dan lingkungan,” tambahnya.

Pentingnya Manfaat untuk Masyarakat

Lalu Arif menegaskan bahwa prinsip utama DPRD adalah memastikan setiap proyek investasi memberikan keuntungan nyata bagi peningkatan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat. Apabila proyek tersebut berpotensi merugikan, maka sudah sepatutnya ditinjau ulang.

“Jika proyek ini berkontribusi positif terhadap ekonomi masyarakat, pasti akan kita dukung. Namun, jika sebaliknya, maka perlu reevaluasi,” jelasnya tegas.

Dampak Terhadap Para Porter dan Masyarakat

Ia juga menggarisbawahi kekhawatiran masyarakat, khususnya para porter yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas pendakian di Gunung Rinjani. Penolakan dari para porter dan pelaku wisata lokal semakin kuat sejak wacana pembangunan kereta gantung bermunculan.

“Para porter ini setiap hari mencari nafkah dengan mengangkut barang pendaki. Dengan adanya kereta gantung, pekerjaan mereka bisa terancam,” kata Lalu Arif.

Potensi dan Keuntungan Bagi Daerah

Lalu Arif pun mempertanyakan sejauh mana proyek ini dapat memberikan efek berganda (multiplier effect) yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat NTB. Ia khawatir potensi wisata daerah akan dieksploitasi tanpa memberikan manfaat yang signifikan kepada penduduk setempat.

“Jangan sampai wilayah kita hanya dieksploitasi sementara hasilnya dibawa keluar oleh investor asing,” imbuhnya serius.

Kesimpulan

Meskipun memiliki penolakan terhadap proyek tersebut, Lalu Arif menyatakan bahwa ia menghormati keputusan yang telah diambil oleh Pemprov NTB. Menurutnya, keputusan ini tidak muncul begitu saja, melainkan setelah melalui pertimbangan yang sangat mendalam.

“Pemerintah tentu melakukan kalkulasi mengenai pro dan kontra. Jika risikonya lebih besar, untuk apa dilaksanakan?” tutupnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button