BRIN Gempur Kemandirian Pangan: Inovasi GPS untuk Ayam Lokal Siap Mengubah Permainan!

Bogor, Maret.id — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini tengah melakukan kajian dalam pengembangan Grand Parent Stock (GPS) ayam lokal. Langkah ini diharapkan dapat mendukung kemandirian perbibitan unggas nasional dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bibit ayam ras komersial.
Kajian ini muncul di tengah tantangan yang dihadapi industri perunggasan di tanah air. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan protein hewani, penting bagi Indonesia untuk memanfaatkan sumber daya genetik ayam lokal yang kaya dan adaptif terhadap lingkungan tropis. Hal ini disampaikan dalam Webinar Risnov Ternak #27 yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Peternakan ORPP BRIN, dengan tema tentang pengembangan GPS ayam lokal, yang berlangsung pada Rabu, 13 Mei 2026.
Tantangan dan Peluang Pengembangan Ayam Lokal
Kepala Pusat Riset Tanaman Pangan ORPP BRIN, Yudhistira Nugraha, menegaskan bahwa ketergantungan pada impor GPS ayam ras komersial menjadi tantangan utama. Hanya negara-negara maju yang saat ini menguasai produksi grandparent stock, berkat riset dan investasi besar yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun.
“Berharap agar kita tidak terus bergantung pada GPS impor, karena Indonesia mempunyai sumber daya genetik ayam lokal yang sangat beragam,” ujar Yudhistira. Ia mencatat bahwa ayam lokal memiliki kemampuan adaptasi dan cita rasa khas yang dapat menjadi nilai tambah dalam memenuhi permintaan pasar domestik.
Kemandirian Pangan dan Peningkatan Protein Hewani
Pengembangan GPS ayam lokal diyakini akan menjadi langkah strategis untuk mencapai kemandirian pangan nasional. Saat ini, sektor perunggasan menjadi penyokong utama dalam pemenuhan protein hewani melalui daging ayam dan telur.
Yudhistira juga menjelaskan bahwa program Makan Bergizi Gratis berpotensi meningkatkan permintaan protein hewani, sehingga penguatan sistem produksi peternakan memerlukan perhatian serius. Menurutnya, pemerintah telah menargetkan peningkatan produksi daging, susu, dan telur sebagai bagian dari program prioritas nasional hingga tahun 2029.
“Kolaborasi lintas sektor sangat penting dalam pengembangan industri GPS ayam lokal. Sinergi antara lembaga riset, industri, peternak, dan pemerintah daerah perlu diperkuat untuk mencapai hasil yang optimal,” tambah Yudhistira.
Inovasi dan Riset Berkelanjutan
BRIN telah diberi arahan untuk menyiapkan koleksi hasil riset peternakan yang diharapkan mulai tersedia pada tahun 2027. Ayam pedaging dan ayam petelur dengan produktivitas lebih tinggi diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata. Riset dan inovasi akan memegang peranan penting dalam mempercepat pengembangan bibit unggul nasional yang lebih adaptif dan efisien.
Santoso, Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, menggarisbawahi potensi besar pengembangan ayam lokal di Indonesia. Dengan meningkatnya permintaan produk unggas, adalah suatu keharusan bagi industri ini untuk tidak hanya bergantung pada potensi genetik saat ini.
“Pengembangan ayam lokal harus diimbangi dengan riset berkelanjutan. Dengan pendekatan yang tepat, termasuk teknologi modern dalam budidaya, kita dapat mengoptimalkan potensi ayam lokal,” ujar Santoso.
Webinar ini bukan hanya kesempatan untuk berbagi hasil riset, tetapi juga untuk memperkuat kolaborasi antara peneliti, akademisi, pemerintah, dan praktisi. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun industri perunggasan yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.
Dalam kegiatan tersebut, Dr. Ir. Muhammad Imron, M.Si., IPU., Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Sembawa, juga menyampaikan prospek pengembangan ayam lokal, termasuk peluang dan hambatan yang di hadapi dalam sektor ini.
Dengan upaya yang serius dan kolaborasi yang kuat, Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi mandiri dalam sektor perunggasan dan menavigasi tantangan global yang dihadapi.