Dunia

Serbia Tolak Deklarasi KTT Ukraina

Jakarta, Maret.id — Presiden Serbia Aleksandar Vučić menjadi satu-satunya pemimpin yang menolak menandatangani deklarasi bersama pada KTT Ukraina–Eropa Tenggara ke-5 yang digelar di Kyiv, Rabu (15/7/2026).

Penolakan Serbia di KTT

Vučić menegaskan posisinya di hadapan para pemimpin regional dan mengatakan bahwa ia menyadari sepenuhnya sikap negara lain terhadap konflik Ukraina–Rusia.
Ia menyebut bahwa selama forum para delegasi beberapa kali menekankan bahwa mereka “100% berpihak” kepada Ukraina, sebuah pernyataan yang menurutnya secara tidak langsung menunjuk pada negara-negara yang tidak sepenuhnya selaras.

Isi Deklarasi dan Posisi Serbia

Deklarasi bersama yang dibahas berisi seruan untuk peningkatan tekanan sanksi terhadap Rusia serta dukungan militer dan keamanan yang berkelanjutan bagi Ukraina.
Serbia menolak menyelaraskan diri sepenuhnya dengan sanksi Barat sambil tetap mengejar keanggotaan Uni Eropa dan memelihara hubungan ekonomi serta pasokan energi yang erat dengan Moskow.

Meskipun demikian, pemerintah Beograd telah beberapa kali mengutuk tindakan Rusia dalam forum PBB dan menyatakan dukungan terhadap integritas teritorial Ukraina.
Pendekatan ini mencerminkan upaya Serbia menyeimbangkan ambisi integrasi Eropa dengan realitas ketergantungan ekonomi dan geopolitik yang membuat langkah tegas terhadap Rusia menjadi sulit.

Reaksi Internasional dan Kehadiran Pemimpin

KTT di Kyiv dihadiri antara lain oleh Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky serta sejumlah pemimpin atau perwakilan senior negara-negara Eropa Tenggara.
Kehadiran para pemimpin itu menegaskan solidaritas regional terhadap Ukraina walau tetap ada perbedaan strategi di antara negara-negara Balkan.

Kunjungan Vučić ke Kyiv menandai perjalanan pertamanya ke ibu kota Ukraina dalam lebih dari satu dekade sekaligus merupakan kunjungan kedua ke Ukraina setelah menghadiri KTT di pelabuhan Odesa pada Juni 2025.
Pada pertemuan sebelumnya di Odesa, Vučić juga menawarkan bantuan kemanusiaan dan mengajukan rencana bantuan rekonstruksi untuk satu atau dua kota atau wilayah yang terdampak perang.

Implikasi Politik dan Diplomasi

Penolakan Serbia untuk menandatangani deklarasi bersama dipandang sebagai sinyal bahwa perdebatan tentang posisi Balkan terhadap konflik Ukraina masih jauh dari kesepakatan mutlak.
Negosiasi keanggotaan Uni Eropa Serbia dan hubungan bilateralnya dengan Rusia akan menjadi faktor penentu yang terus memengaruhi sikap Beograd dalam forum internasional.

Para pengamat menilai langkah Vučić dapat meningkatkan tekanan dari mitra Eropa namun juga memperkuat posisi domestik di dalam negeri yang mengutamakan stabilitas pasokan energi dan hubungan ekonomi.
Sementara itu, negara-negara pendukung Ukraina kemungkinan akan terus mendorong kohesi kebijakan dan konsistensi dukungan politik serta bantuan keamanan kepada Kyiv.

Prospek Ke Depan

Perkembangan diplomasi antara Serbia, Uni Eropa, dan pihak-pihak terkait lainnya akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan regional di masa mendatang.
Di tengah dinamika tersebut, komunitas internasional dan pemangku kepentingan regional akan mengamati apakah Beograd akan mempertahankan jarak dengan inisiatif sanksi Barat atau memilih penyelarasan yang lebih erat seiring kemajuan proses integrasi Eropa.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button