Nasional

32 Siswa SD Makassar Jadi Korban Pencabulan, DPR Dukung Hukuman Berat

Jakarta, Maret.id — Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Habib Syarief Muhammad, menegaskan kecaman terhadap tindakan pencabulan oleh seorang pria lanjut usia berinisial MD terhadap 32 siswa Sekolah Dasar (SD) di Makassar, Sulawesi Selatan.

Habib Syarief meminta agar pelaku dijatuhi hukuman seberat-beratnya dan memastikan seluruh korban mendapatkan pendampingan psikologis untuk memulihkan trauma yang dialami. “Kami sangat mengecam tindakan pencabulan pria lansia terhadap 32 siswa SD. Kekerasan seksual terhadap anak merupakan kejahatan luar biasa dan tindakan amoral yang tidak bisa ditoleransi dengan alasan apa pun,” ujar Habib Syarief di Jakarta, Senin (20/7/2026).

Kasus ini terungkap setelah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar memberikan pendampingan kepada keluarga korban. Awalnya, hanya tiga siswi yang dilaporkan menjadi korban pada Juni 2026. Namun, setelah dilakukan pendataan dan asesmen lebih lanjut, jumlah korban meningkat menjadi 32 siswa.

Pelaku, yang merupakan pemilik warung di depan sekolah, diduga melakukan aksinya saat siswa berbelanja pada jam istirahat atau saat pulang dan sebelum masuk kelas. Habib Syarief menegaskan bahwa setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual di lingkungan pendidikan.

“Sekolah harus menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang anak, bukan lokasi tindak kejahatan yang meninggalkan trauma mendalam,” tegasnya. Legislator asal Jawa Barat ini menambahkan bahwa dampak kekerasan seksual terdapat pada luka fisik dan trauma psikologis yang memengaruhi perkembangan mental dan kehidupan sosial korban.

Pemerintah daerah bersama kementerian dan lembaga terkait diharapkan segera memberikan pendampingan psikologis, layanan kesehatan, dan pendampingan hukum bagi seluruh korban dan keluarganya. “Para korban harus segera mendapatkan pendampingan yang komprehensif. Negara harus hadir untuk memulihkan kondisi psikologis mereka agar dapat kembali menjalani kehidupan dan pendidikan dengan normal,” kata Habib Syarief.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button