AI Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi, Indonesia Curi Peluang

Jakarta, Maret.id — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) semakin menarik perhatian global. Hal ini terjadi seiring meningkatnya kompleksitas ekonomi dan geopolitik dunia.
Pemanfaatan AI kini meluas ke berbagai sektor industri, mulai dari keuangan, manufaktur, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Teknologi ini dianggap sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi bisnis.
Djoko Sulistyo, Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia, mengungkapkan pentingnya strategi investasi yang komprehensif. “Investor perlu melihat peluang secara lebih luas dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental setiap kawasan,” kata Djoko.
Ada tiga kawasan utama yang menarik perhatian, yaitu Amerika Serikat (AS), Tiongkok, dan Asia termasuk Indonesia. AS masih memimpin dalam inovasi AI, sementara Tiongkok berhasil mempercepat penerapan AI di berbagai sektor untuk meningkatkan produktivitas.
Di sisi lain, Asia, termasuk Indonesia, mendapatkan keuntungan dari perubahan rantai pasok global dan pertumbuhan ekonomi regional. Yunarto Wijaya, Executive Director Charta Politika Indonesia, menegaskan bahwa Indonesia perlu memperkuat fondasi ekonomi domestik.
“Meningkatnya rivalitas AS dan Tiongkok mengharuskan setiap negara untuk adaptif dalam menyusun strategi ekonomi dan diplomasi,” ujar Yunarto. Ia juga menambahkan bahwa daya saing Indonesia ditentukan oleh kekuatan fundamental ekonominya.
“Posisi tawar suatu negara tidak hanya ditentukan oleh kemampuan diplomasi, tetapi juga oleh kekuatan fundamental ekonominya,” tegas Yunarto.





