Politik

Refleksi Kudatuli, DPC Bojonegoro Ajak Mahasiswa Bersuara Aktif

Jakarta, Maret.id — Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Bojonegoro mengadakan acara refleksi untuk memperingati peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli 1996 atau dikenal dengan Kudatuli. Acara tersebut berlangsung di Halaman Kantor DPC PDI Perjuangan Bojonegoro pada Minggu, 26 Juli 2026.

Kegiatan ini dihadiri oleh pengurus DPC, PAC, Ranting, Satgas PDI Perjuangan Bojonegoro, serta perwakilan dari organisasi mahasiswa seperti PMII, HMI, dan GMNI, serta para budayawan lokal. Acara diisi dengan pembacaan puisi, diskusi, dan doa bersama.

“Peristiwa Kudatuli adalah sejarah kelam, tapi juga sejarah keberanian. Mari kita jadikan refleksi untuk membangun dengan kebenaran,” ujar Bambang, salah satu peserta kegiatan. Ia menekankan bahwa peristiwa penyerbuan Kantor DPP PDI pada tahun 1996 menjadi titik awal bagi terbentuknya gerakan solid antara mahasiswa, budayawan, dan rakyat, yang mendorong Reformasi 1998.

“Pesan saya: jangan pernah takut. Bersatu tidak harus menjadi satu, tapi bergerak bersama untuk Indonesia,” sambung Bambang.

Sekretaris DPC PDI Perjuangan Bojonegoro, Doni Bayu Setyawan, menekankan bahwa Kudatuli memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya menjaga kedaulatan rakyat saat demokrasi terancam. “Dari Kudatuli kita belajar, ketika demokrasi dikebiri maka rakyat akan bangkit. Semoga refleksi ini bisa membuka mata dan hati kita semua,” tegas Doni.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan kader untuk tidak takut bersuara. Menurut Doni, aksi sekecil apapun dapat menjadi pemantik perubahan bagi kebaikan bangsa. Ia mengingatkan ajaran Trisakti Bung Karno sebagai pijakan utama dalam membangun negara, yakni Indonesia yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button