WFP Peringatkan El Nino Memanas, Tekan Panen dan Picu Krisis Pangan Afrika!

Jakarta, Maret.id — Program Pangan Dunia (WFP) PBB memperingatkan lebih dari 18 juta orang di wilayah Afrika Timur dan Afrika Selatan berisiko menghadapi memburuknya kerawanan pangan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncaknya antara September dan Desember. Peringatan tersebut menyoroti urgensi tindakan antisipatif menjelang musim tanam dan panen yang kritis bagi ketahanan pangan regional.
Perkiraan puncak dan dampak jangka pendek
WFP menyatakan bahwa meskipun puncak El Nino diperkirakan berlangsung pada akhir tahun ini, dampaknya terhadap siklus panen diperkirakan masih akan terasa hingga 2027. Artinya, gangguan pada produksi pangan dapat memengaruhi ketersediaan dan akses pangan dalam jangka menengah.
Wilayah paling rentan
Afrika Bagian Selatan disebut sangat rentan karena ketergantungan masyarakat pada pertanian subsisten yang bergantung pada curah hujan. Negara-negara yang menghadapi konflik berkepanjangan, kemiskinan, dan ketidakstabilan ekonomi akan menanggung beban terberat akibat kombinasi faktor ini.
WFP mencatat sejumlah negara sudah mengalami pola cuaca ekstrem berupa curah hujan di bawah rata-rata, banjir bandang, serta gelombang panas dengan suhu yang jauh di atas normal. Kondisi tersebut memperburuk risiko gagal panen dan menekan cadangan pangan rumah tangga.
Pelajaran dari El Nino sebelumnya
Badan PBB itu mengingatkan pengalaman El Nino 2015–2016 yang pernah memengaruhi antara 60 juta hingga 100 juta orang di berbagai belahan dunia. Analisis awal WFP menunjukkan bahwa El Nino 2026–2027 dapat menambah sekitar 49 juta orang yang mengalami kerawanan pangan akut pada akhir 2027 jika langkah mitigasi tidak ditingkatkan.
Sejak Mei, WFP mengaktifkan langkah respons antisipatif di beberapa negara, termasuk Sudan Selatan, Chad, Mauritania, Uganda, Guatemala, dan El Salvador. Bantuan prabencana senilai lebih dari 14 juta dolar AS telah disalurkan untuk menjangkau sekitar 500.000 orang yang paling rentan.
Langkah awal ini meliputi distribusi makanan, dukungan logistik, dan intervensi kesiapsiagaan yang bertujuan menahan dampak sementara kondisi memburuk. Namun WFP menekankan bahwa sumber daya saat ini belum mencukupi jika gelombang El Nino berkembang lebih parah dari proyeksi awal.
WFP memperingatkan bahwa implikasi krisis pangan tidak terbatas pada pasokan tetapi juga menyangkut gizi, terutama pada anak-anak dan kelompok rentan. Risiko kekurangan gizi akut meningkat ketika keluarga kehilangan mata pencaharian dan akses ke pasokan pangan bergizi berkurang.
Permintaan WFP kepada komunitas donor internasional adalah peningkatan dukungan finansial dan logistik untuk memperluas cakupan bantuan antisipatif. Tanpa tambahan pembiayaan dan koordinasi, respons bisa tertunda dan meningkatkan kemungkinan krisis yang lebih luas.
Tantangan operasional juga menjadi perhatian, karena distribusi bantuan di wilayah konflik atau dengan infrastruktur rusak memerlukan upaya tambahan dan solusi logistik yang fleksibel. Upaya peningkatan kapasitas lokal dan kerja sama dengan mitra kemanusiaan dianggap penting untuk mengatasi hambatan ini.
Para ahli iklim dan pembangunan menyarankan negara-negara rentan memperkuat sistem peringatan dini, investasi pada infrastruktur irigasi, serta diversifikasi mata pencaharian masyarakat. Pendekatan ini juga mencakup pembangunan cadangan pangan lokal dan penguatan jaringan pasar untuk meredam lonjakan harga.
Dampak El Nino bersifat global sehingga gangguan pasokan di wilayah penghasil pangan dapat memengaruhi harga komoditas dan ketersediaan pangan di pasar internasional. Pemerintah dan pembuat kebijakan di negara-negara importir perlu memantau perkembangan dan menyiapkan kebijakan mitigasi untuk melindungi konsumen paling rentan.
WFP menegaskan pentingnya pemantauan berkelanjutan hingga 2027 untuk menilai evolusi kondisi dan menyesuaikan respons secara tepat waktu. Kombinasi tindakan antisipatif, dukungan donor, dan kebijakan nasional yang proaktif dinilai krusial untuk mencegah krisis kemanusiaan yang lebih luas.
Akhirnya, badan PBB itu menyerukan solidaritas internasional untuk memperkuat upaya pencegahan dan respon sehingga dampak El Nino yang bersifat transnasional tidak berkembang menjadi bencana kemanusiaan yang lebih besar. Koordinasi cepat dan komitmen sumber daya akan menjadi penentu kemampuan negara-negara rentan dalam melindungi penduduknya dari krisis pangan yang potensial.





