Ketergantungan PSI pada Jokowi Ancam Masa Depan Politik di 2029!

Jakarta, Maret.id — Setelah beredar informasi bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah pulih 99 persen dari kondisi kesehatannya, rencana untuk berkeliling Indonesia pada Juni 2026 semakin menguat. Langkah ini dianggap sebagai sinyal kuat bahwa Jokowi akan mengambil peran aktif dalam memperkuat Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di berbagai daerah.
Langkah Jokowi dalam Memperkuat PSI
Dalam rapat kerja nasional PSI yang berlangsung di Makassar pada 31 Januari 2026, Jokowi mengungkapkan komitmennya untuk terjun langsung ke masyarakat dalam rangka membesarkan partai. Menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, saat ini PSI sangat bergantung pada sosok Jokowi untuk meningkatkan elektabilitas partai.
Jamiluddin menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada kader PSI yang memiliki daya tarik elektoral yang kuat, termasuk Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep. “Ketergantungan terhadap Jokowi semakin besar karena elektabilitas PSI masih sangat rendah. Survei terakhir menunjukkan bahwa elektabilitas PSI hanya mencapai 1,2 persen,” ujar Jamiluddin pada 16 Mei 2026.
Kegiatan Konsolidasi dan Basis Utama PSI
Lebih lanjut, dia menambahkan bahwa meskipun Kaesang dan jajaran pengurus PSI telah berkeliling Indonesia untuk konsolidasi politik, hal ini belum membuahkan hasil yang signifikan. PSI bahkan menargetkan Jawa Tengah dan Makassar sebagai basis utama untuk memperkuat posisi partainya di kancah politik nasional.
Namun, Jamiluddin mencatat bahwa upaya tersebut belum mampu meningkatkan elektabilitas PSI. “Tampaknya, PSI tinggal berharap pada Jokowi agar mereka dapat mewujudkan ambisi politiknya ke Senayan,” kata Jamiluddin.
Strategi Spekulatif dan Risiko Kekecewaan
Meskipun demikian, Jamiluddin menyebutkan bahwa strategi mengandalkan Jokowi sangat spekulatif. Dia berpendapat bahwa pengaruh politik Jokowi saat ini tidak sekuat beberapa tahun lalu, mengingat masa keemasannya mulai memudar. “Jokowi bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis masyarakat untuk berpihak kepadanya. Dia kini menjadi sosok yang kontroversial, termasuk terkait isu-isu seperti ijazahnya,” ujarnya.
Jamiluddin juga memperingatkan bahwa dukungan dari loyalis Jokowi saat ini belum tentu cukup kuat untuk mengangkat elektabilitas PSI di tingkat nasional. Ia menegaskan bahwa terlalu bergantung pada Jokowi bisa berisiko menimbulkan antipati publik terhadap partai tersebut. “Berharap pada Jokowi untuk meningkatkan elektabilitas PSI tampaknya akan berujung pada kekecewaan. Kehadiran Jokowi ke berbagai daerah sambil membawa panji-panji PSI bisa jadi justru berbalik merugikan,” pungkasnya.
Dalam konteks ini, tantangan besar bagi PSI adalah menemukan cara untuk mandiri dan membangun basis dukungan yang kuat tanpa terlalu bergantung pada figur Jokowi. Situasi politik saat ini menunjukkan bahwa daya tarik seorang pemimpin sangat penting dalam mempengaruhi suara pemilih, namun juga perlu disertai dengan upaya konsolidasi yang strategis dan inovatif.





