Nasional

Gempa M7,7 Guncang Flores, Waspadai Gempa Susulan dan Risikonya

Jakarta, Maret.id — Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Guncangan ini memicu peringatan dini tsunami dan menyebabkan kerusakan signifikan pada ratusan bangunan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya sedikitnya 235 gempa susulan dengan kekuatan sampai magnitudo 6,2. Mereka memperkirakan aktivitas ini masih akan berlanjut selama dua hingga tiga minggu ke depan.

Guncangan kuat dirasakan hingga skala VII MMI di beberapa wilayah seperti Aesesa, Riung, dan Kota Mbay. Tsunami setinggi 1,61 meter tercatat di perairan Reo, Manggarai.

Pakar gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Irwan Meilano, menyebut gempa ini mirip dengan gempa dahsyat Flores pada tahun 1992. “Kewaspadaan terhadap potensi gempa susulan dan risiko kerusakan infrastruktur harus tetap tinggi,” kata Prof. Meilano.

Gempa utama berpusat di laut pada koordinat 8,41° Lintang Selatan dan 121,39° Bujur Timur, sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo, dengan kedalaman dangkal 15 kilometer.

BMKG menjelaskan bahwa gempa ini disebabkan oleh aktivitas sesar naik busur belakang Flores atau Flores Back-Arc Thrust. “Wilayah Flores memang dikenal memiliki aktivitas kegempaan yang tinggi,” kata Prof. Meilano.

“Di bagian selatan terdapat zona subduksi yang mempertemukan Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia,” jelasnya. Ia menambahkan, “Interaksi kedua sumber gempa ini menjadikan Flores salah satu kawasan dengan risiko seismik terbesar di Indonesia.”

BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami hanya 2 menit 16 detik setelah gempa utama. Status siaga dengan potensi tsunami 0,5 hingga 3 meter sempat diberlakukan di berbagai daerah, termasuk Manggarai Utara, Ngada Utara, dan Ende.

Berdasarkan pantauan tide gauge BMKG, tsunami tertinggi tercatat 1,61 meter di Reo, Manggarai. Gelombang lebih kecil juga terpantau di Maurole-Ende dan Bulukumba. Setelah memastikan tidak ada lagi bahaya, BMKG menghentikan peringatan dini tsunami pada pukul 07.30 WIB.

Hingga Sabtu siang, BMKG mencatat 235 gempa susulan dengan magnitudo berkisar 2,5 hingga 6,2. “Proses peluruhan alami memerlukan waktu antara dua hingga tiga minggu,” ungkap Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam Rapat Koordinasi Penanganan Darurat Bencana di Jakarta.

Prof. Irwan Meilano mengingatkan bahwa gempa Flores 2026 memiliki kemiripan signifikan dengan yang terjadi pada tahun 1992. Jarak antara kedua lokasi gempa tersebut kurang dari 40 kilometer.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button