Politik

Soekarno Cup Berhenti Sejenak Doakan Korban Gempa NTT dan Sumatera

Jakarta, Maret.id — Gempa bumi berkekuatan 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur, serta gempa 6,4 yang terjadi di Simalungun, Sumatera Utara, telah menggerakkan aksi solidaritas dari peserta Soekarno Cup 2026. Semua pertandingan yang berlangsung di Surabaya, Gresik, dan Bangkalan pada Sabtu (15/8/2026), diawali dengan satu menit hening untuk mendoakan korban bencana.

Pemain, wasit, ofisial, dan penonton bersatu dalam momen tersebut dengan menundukkan kepala selama satu menit. Pertandingan terhenti sejenak, dan doa dipanjatkan untuk mereka yang sedang berduka.

Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup 2026, Komarudin Watubun, menegaskan bahwa tindakan tersebut adalah sebuah bentuk belasungkawa. “Seluruh pertandingan Soekarno Cup 2026 hari ini kita awali dengan mengheningkan cipta dan berdoa untuk saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” kata Komarudin.

Gempa Flores terjadi pada pukul 04.58 WIB, dengan pusat di laut sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami, yang dibatalkan pada pukul 07.30 WIB.

Pada sore harinya, Simalungun kembali diguncang gempa di kedalaman 168 kilometer, meski BMKG menyatakan tidak ada potensi tsunami. Akibat gempa di Flores, BNPB mencatat 47 orang meninggal dunia dan kerusakan cukup signifikan, termasuk 346 rumah, 87 sekolah, dan 18 fasilitas kesehatan.

Momen haru juga terasa di Gelora 10 November Surabaya saat laga antara Banteng Jawa Timur dan Banteng Maluku Raya akan dimulai. Kick-off ditunda demi menghormati para korban.

Manajer Banteng Jatim, Didik Prasetiyono, mengatakan bahwa keputusan tersebut adalah panggilan nurani. “Di tengah perhelatan pertandingan, kita tahu ada bencana gempa di Flores dan barusan saja ada bencana gempa di Sumatera Utara,” ujar Didik.

Menurutnya, olahraga harus tetap mengedepankan sisi kemanusiaan. “Ketika masyarakat di daerah lain sedang menghadapi bencana, sepak bola menjadi ruang untuk menunjukkan kepedulian,” tuturnya.

Seluruh elemen pertandingan berpartisipasi dalam momen hening tersebut. “Seluruh ofisial, penonton, pemain, perangkat pertandingan, semua tadi melakukan one minute silent,” imbuh Didik.

Kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire menjadikan kesigapan terhadap bencana sebagai hal yang sangat penting. “Ring of Fire lagi aktif dan kebetulan terjadi bencana di saat kita rangkaian pertandingan,” jelas Didik.

Komarudin menambahkan bahwa solidaritas ini adalah bagian dari nilai yang ingin ditanamkan melalui Soekarno Cup 2026. “Kompetisi tidak hanya tentang menang dan kalah. Sepak bola juga merupakan ruang untuk membangun karakter, persaudaraan, dan kepedulian,” ujarnya.

Pesan ini tercermin di tiga lokasi pertandingan. Rivalitas antar tim sejenak dikesampingkan, memberi jalan bagi penghormatan kepada masyarakat yang sedang mengalami musibah.

Didik Prasetiyono menyatakan, makna lain dari sepak bola kini lebih jelas. “Jadi kita ikut memberikan solidaritas terhadap lokasi bencana dan korban bencana,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button