China Ungkap Bukti Baru Kejahatan Jepang, Memanas Hubungan Dagang Asia!

Jakarta, Maret.id — Pemerintah China resmi memublikasikan ratusan dokumen, artefak, dan kesaksian lisan terbaru yang menyorot kejahatan perang Tentara Kekaisaran Jepang selama invasi pada masa Perang Dunia II. Pengumuman itu dirilis berdekatan dengan peringatan ke-81 penyerahan tanpa syarat Jepang, sehingga memicu perhatian internasional mengenai cara pengarsipan dan pelaporan sejarah perang di kawasan Asia Timur.
Rangkaian bukti yang dipublikasikan
Lembaga-lembaga budaya dan museum di China menyatakan bahwa koleksi yang dibuka mencakup arsip tertulis, barang-barang pribadi korban, foto, serta rekaman wawancara penyintas. Rangkaian bukti tersebut disebut berasal dari kurun waktu penelitian intensif sepanjang paruh pertama 2026 dan melibatkan donasi dokumen dari berbagai sumber internasional.
Temuan terkait Pembantaian Nanjing
Balai Peringatan Korban Pembantaian Nanjing melaporkan telah mengumpulkan lebih dari 150 artefak dan sekitar 100 dokumen arsip baru yang terkait peristiwa 1937. Salah satu dokumen yang menjadi sorotan adalah surat pribadi seorang prajurit divisi ke-16 Angkatan Darat Jepang, tertanggal 20 Desember 1937, yang dalam teksnya mencantumkan klaim eksekusi terhadap ribuan tawanan yang menyerah.
Arsip tambahan yang diterima termasuk naskah diplomatik dan buku panduan pelatihan yang diduga memuat prosedur penggunaan gas beracun militer, sehingga menambah dimensi administratif pada bukti-bukti kekerasan yang dipamerkan. Peneliti museum menyatakan bahwa bukti-bukti tertulis ini membantu merekonstruksi jalannya peristiwa dari perspektif dokumen internal militer.
Sistem “wanita penghibur” dan dampaknya
Museum yang menampilkan bukti tentang sistem “wanita penghibur” memamerkan puluhan foto serta barang pribadi milik para penyintas yang selama ini sedikit diungkap ke publik. Seorang fotografer dan peneliti menyerahkan lebih dari 200 gambar hasil wawancara dengan sekitar 70 penyintas yang berasal dari China, Jepang, dan Korea Selatan.
Dokumentasi ini menyoroti trauma psikologis dan dampak fisik jangka panjang yang dialami korban, sekaligus menegaskan kebutuhan akan pengakuan dan perawatan untuk para penyintas. Kuratorial museum menyebutkan bahwa eksposisi tersebut dimaksudkan untuk memberi ruang bagi cerita korban yang selama ini banyak terabaikan dalam narasi resmi perang.
Kesaksian terkait Unit 731 dan jejak senjata kimia
Di Harbin, pameran bukti kejahatan yang dikaitkan dengan Unit 731 memuat rekaman kesaksian lisan berdurasi sekitar 70 menit dari seorang mantan petugas medis cabang Hailar. Dalam rekaman tersebut, yang dipresentasikan oleh penyelenggara pameran, diwawancarai seorang mantan petugas yang mengungkapkan praktik pembakaran fasilitas eksperimen dan penguburan peralatan berbahaya menjelang akhir perang.
Dokumen dan data yang ditampilkan oleh institusi-institusi China menyebutkan bahwa sisa senjata kimia yang ditinggalkan selama pendudukan diperkirakan telah menimbulkan korban jiwa warga sipil setelah perang berakhir. Para peneliti juga menyajikan berkas pendaftaran personel yang, menurut mereka, menunjukkan penyamaran identitas untuk menutup operasi riset biologis rahasia serta rekrutmen dengan kedok unit reguler.
Angka dan klaim yang dipamerkan
Beberapa dokumen yang dipublikasikan menyebut jumlah subjek eksperimen medis mencapai beberapa ribu orang dan mengaitkan penggunaan senjata biologis dengan angka korban yang besar. Para ilmuwan dan sejarawan yang bekerja pada proyek ini menekankan bahwa angka-angka tersebut perlu dikaji lebih lanjut melalui verifikasi silang dan penelitian historis independen.
Para peneliti juga menyerukan keterbukaan akses arsip agar komunitas internasional dapat melakukan evaluasi ilmiah terhadap temuan-temuan tersebut dan mencapai pemahaman sejarah yang lebih objektif. Mereka menekankan pentingnya pendekatan berbasis bukti untuk penyelesaian sengketa ingatan kolektif serta pencegahan distorsi sejarah di masa depan.
Respons dan implikasi diplomatik
Publikasi arsip ini berpotensi mempengaruhi diskursus publik dan hubungan bilateral antarnegara yang terkait dalam isu-isu sejarah perang. Para pengamat menyatakan bahwa cara negara-negara di kawasan mengelola memori perang, termasuk pembukaan arsip, akan menentukan arah dialog rekonsiliasi dan pendidikan sejarah di masa mendatang.
Pameran dan publikasi dokumen akan terus dipantau oleh komunitas akademik, museum, dan masyarakat sipil, sementara sejumlah pihak mendorong upaya verifikasi independen serta dialog lintas negara untuk menempatkan temuan-temuan tersebut dalam konteks historiografis yang luas. Museum-museum penyelenggara menyatakan bahwa koleksi tambahan dan penelitian lanjutan akan diumumkan secara bertahap seiring proses katalogisasi dan digitalisasi arsip.





