Komandan AD Iran Usir Kapal AS, Memanas: Lalu Lintas Minyak Terancam!

Jakarta, Maret.id — Perwira tinggi militer Iran, Jenderal Amir Hatami, pada Minggu (16/8/2026) menegaskan bahwa pasukan Amerika Serikat tidak memiliki hak untuk melintasi Selat Hormuz maupun memasuki perairan Teluk Persia dan Teluk Oman.
Pernyataan resmi militer Iran
Hatami menyatakan bahwa “pasukan AS telah diusir dan tidak lagi diizinkan memasuki Teluk Persia, Teluk Oman, atau Selat Hormuz”, menurut pernyataan yang disampaikannya pada waktu setempat.
Ia mempertegas bahwa keberadaan pangkalan-pangkalan AS tidak akan kembali seperti sebelumnya dan Iran tidak akan mengizinkan pemulihan status tersebut.
Selat Hormuz sebagai alat tawar geopolitik
Jenderal Hatami menggambarkan Selat Hormuz sebagai “peluang geopolitik” bagi Iran dan menekankan bahwa situasi di jalur perairan yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dunia itu tidak akan kembali ke keadaan semula.
Menurutnya, penguasaan atas lintasan laut strategis tersebut merupakan salah satu syarat penting bagi Iran untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung.
Laporan kesepakatan dengan Oman
Sejumlah saluran media regional melaporkan bahwa Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan untuk membuka Selat Hormuz sepenuhnya bagi pelayaran, namun kesepakatan itu masih menunggu persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Sumber-sumber tersebut menyebutkan bahwa pengumuman resmi mengenai kesepakatan itu kemungkinan akan dilakukan dalam beberapa hari mendatang.
Dampak terhadap keamanan maritim dan perdagangan
Penutupan atau pembatasan akses di Selat Hormuz berpotensi mengganggu arus ekspor minyak dan logistik maritim global karena wilayah ini menjadi jalur utama bagi kapal tanker yang membawa energi ke pasar internasional.
Kebijakan baru dari Teheran yang menolak kehadiran militer asing dapat mendorong negara-negara pengguna jalur untuk mencari jalur alternatif atau meningkatkan langkah-langkah keamanan bersama.
Respons internasional dan prospek diplomasi
Klaim pengusiran pasukan asing dan kesiapan untuk mengubah status navigasi di Selat Hormuz diperkirakan akan memicu reaksi dari negara-negara yang berkepentingan di kawasan dan mitra internasional, khususnya yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Teluk.
Upaya diplomasi multilateral dan mekanisme keamanan regional dapat menjadi kunci untuk meredam ketegangan dan menjaga kelancaran perdagangan maritim ke depan.
Perkembangan pernyataan militer dan laporan kesepakatan dengan Oman ini menjadi titik perhatian bagi pelaku pasar energi, otoritas pelayaran, serta pemerintah di kawasan yang khawatir akan potensi gangguan pasokan dan peningkatan premi asuransi kapal.
Proses persetujuan internal di Iran dan respons internasional dalam beberapa hari mendatang akan menentukan arah selanjutnya terkait status navigasi di Selat Hormuz.





