Politik

Kuliah Tamu di Ponorogo, Novita Hardini Ajak Mahasiswa Tindak Kebijakan Publik

Jakarta, Maret.id — Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI, Novita Hardini, menekankan pentingnya peran aktif mahasiswa dalam pembangunan.

Menurutnya, mahasiswa tidak seharusnya hanya menjadi penonton dalam proses pembentukan kebijakan publik. Ujar Novita, “Mahasiswa harus memahami proses pembentukan kebijakan publik, kritis terhadap persoalan di lingkungan sekitar,” imbuhnya saat menjadi narasumber pada kuliah tamu di Universitas Merdeka (UNMER) Malang Kampus PDKU Ponorogo, Sabtu (15/8/2026).

Kuliah tamu kali ini mengangkat tema “Transformasi Kebijakan Publik, Kepastian Hukum, dan Penguatan Ekonomi Daerah dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045.” Forum ini bertujuan untuk mendialogkan keterkaitan antara kebijakan publik, kepastian hukum, dan penguatan ekonomi daerah di hadapan mahasiswa.

Novita menekankan bahwa cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak dapat terwujud hanya melalui kebijakan pemerintah. “Kualitas sumber daya manusia, terutama generasi muda, menjadi salah satu faktor penting agar pembangunan berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tegasnya.

Generasi muda, sambungnya, harus memiliki kemampuan berpikir kritis dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat sebagai bentuk kontribusi bagi daerah. Mahasiswa, menurut Novita, berada di posisi strategis untuk memahami proses di balik setiap kebijakan.

“Jangan hanya menjadi penikmat kebijakan. Pahami bagaimana kebijakan itu dibuat, siapa yang menentukan, dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat,” terangnya.

Di samping itu, Novita juga menyoroti peran generasi muda dalam penguatan ekonomi daerah. Ia berpendapat bahwa daerah memerlukan individu yang mampu menganalisis potensi lokal dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Ia juga menambahkan bahwa kampus mempunyai tanggung jawab untuk melahirkan gagasan-gagasan yang dapat memecahkan permasalahan di daerah. “Mahasiswa dituntut untuk tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memahami kondisi sosial dan ekonomi masyarakat di sekitarnya,” sambungnya.

Kepastian hukum, kata Novita, merupakan fondasi krusial dalam menciptakan iklim ekonomi yang sehat. “Kepastian tersebut dibutuhkan agar masyarakat dan pelaku usaha memiliki ruang yang aman untuk berkembang dan berinovasi,” ujarnya.

Dalam pandangannya, “Indonesia Emas 2045 tidak akan lahir hanya dari angka pertumbuhan ekonomi. Kita membutuhkan manusia yang kritis, berintegritas, dan berani mengambil bagian dalam menyelesaikan persoalan daerah,” jelasnya.

Novita berharap kuliah tamu ini bukan hanya menjadi forum akademik, tetapi juga momen bagi mahasiswa Ponorogo untuk lebih aktif dalam membaca persoalan daerah dan menghasilkan gagasan konkret. “Kampus harus menjadi tempat lahirnya gagasan, keberanian, dan solusi, karena masa depan daerah dan Indonesia bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab generasi muda,” pungkasnya.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button