Usulan ATM MBG Segera Dibahas di Komisi IX DPR RI

Jakarta, Maret.id — Usulan Anggota DPR RI Romy Soekarno mengenai penggunaan Kartu ATM Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai mekanisme penyaluran dana bantuan kepada siswa akan dibahas dalam Komisi IX DPR.
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP, Charles Honoris, menegaskan bahwa usulan tersebut harus dikaji secara serius oleh pemerintah. “Bisa saja nanti ketika raker (dibahas),” ujarnya.
Charles menyatakan bahwa rantai penyediaan dan distribusi makanan yang lebih pendek akan mengurangi berbagai risiko terkait keamanan pangan maupun potensi penyimpangan anggaran. “Secara prinsip, usulan tersebut merupakan ide yang baik dan layak untuk dipertimbangkan pemerintah,” kata Charles.
Dia juga menambahkan bahwa upaya perbaikan gizi yang melibatkan orang tua dalam memastikan pemenuhan gizi anak adalah alternatif yang perlu dieksplorasi. “Ini menjadi penting mengingat kasus keracunan dalam program MBG hingga saat ini sudah berdampak terhadap lebih dari 45 ribu orang,” ujar Charles.
Sebelumnya, Romy Soekarno mengemukakan bahwa Kartu ATM MbG dapat memastikan bantuan tepat sasaran dan meminimalkan risiko kebocoran anggaran. “Kartu ATM ini berfungsi sebagai ditransfer uangnya setiap hari Rp15.000 ke dalam rekening yang dia terima dan Rp15.000 itu bisa untuk dia masak di rumah,” kata Romy Soekarno.
Romy menjelaskan bahwa dana bantuan akan ditransfer langsung ke rekening orang tua atau wali murid, dan jika ada dua anak dalam satu keluarga yang menjadi penerima manfaat, total bantuannya mencapai Rp30.000 per hari.
Mekanisme distribusi dana akan menggunakan data kependudukan dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK). Orang tua atau wali murid diwajibkan mengambil surat keterangan dari kelurahan sebagai syarat pembukaan rekening di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Romy juga menawarkan alternatif lain berupa pengelolaan anggaran melalui dapur atau kantin sekolah, yang dinilai lebih sederhana. “Opsi kedua adalah di sekolah dapurnya, ya dibuat di sekolah yang mengelola adalah sekolah, gitu. Itu lebih simpel lagi,” tutur Romy Soekarno.





