DPR Tegaskan Hukum Harus Diterapkan Sebelum Karhutla Meluas

Jakarta, Maret.id — Pemerintah didorong untuk membangun satu dashboard pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengintegrasikan berbagai data.
Data ini mencakup informasi cuaca, hotspot, kondisi lahan, kawasan rawan, pemegang izin, riwayat kebakaran, kesiapan personel dan peralatan, hingga perkembangan penegakan hukum.
“Dengan begitu, kita bergerak dari reaktif menjadi prediktif, dari sektoral menjadi terintegrasi, dan dari memadamkan menjadi mencegah,” kata Rina Saadah, Anggota Komisi IV DPR.
Rina menambahkan bahwa masyarakat harus dilibatkan dalam sistem pencegahan karhutla. Menurutnya, masyarakat yang paling dekat dengan kawasan hutan memiliki pengetahuan lokal dan kemampuan deteksi dini yang penting.
“Masyarakat tidak boleh hanya ditempatkan sebagai objek penertiban. Mereka harus menjadi bagian dari sistem pencegahan,” tegas Rina.
Ia juga menyoroti pentingnya tanggung jawab dunia usaha, terutama bagi para pemegang izin pengelolaan wilayah. Pengawasan, kata Rina, tidak boleh hanya berfokus pada kepatuhan administratif setelah kebakaran terjadi.
“Kesiapsiagaan, pencegahan, deteksi dini, serta kemampuan merespons harus menjadi indikator nyata tanggung jawab pengelolaan wilayah,” imbuhnya.
Rina menegaskan, “Kita tidak boleh puas hanya karena berhasil memadamkan api. Target kita harus lebih tinggi: membuat api semakin sulit untuk muncul.”
Legislator dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menilai keberhasilan operasi pemadaman berbeda dengan keberhasilan kebijakan pencegahan.
“Kalau hari ini kita berhasil memadamkan satu api, itu keberhasilan operasi. Tetapi kalau kita berhasil membuat satu wilayah tidak lagi mengalami kebakaran berulang, itulah keberhasilan kebijakan,” sambung Rina.
Luas karhutla tercatat mencapai sekitar 202 ribu hektare dalam tujuh bulan pertama 2026. Dari angka ini, sekitar 95 ribu hektare terjadi hanya pada Juli, dengan sekitar 57 persen di antaranya berada di kawasan hutan.
Hingga 10 Agustus 2026, Indonesia tercatat memiliki 1.306 titik panas atau hotspot sepanjang bulan tersebut. Angka ini meningkat sekitar 160 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.





