Motor Listrik Nasional Dinilai Sebagai Titik Balik Otomotif

Jakarta, Maret.id — Rencana program Motor Listrik Nasional (Molinas) dinilai menjadi angin segar bagi transformasi industri otomotif dan pengembangan manufaktur di Indonesia. Program tersebut resmi diumumkan pada 17 Juli lalu, menarik perhatian karena potensinya dalam mendukung industri kendaraan listrik dan meningkatkan peran produk lokal.
Pengamat Transportasi dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menyatakan bahwa program ini membuka peluang besar bagi pengembangan produk lokal. Keterlibatan insinyur dalam proses desain dan manufaktur dinilai dapat menciptakan produk dengan spesifikasi yang relevan untuk kondisi geografis dan daya beli masyarakat Indonesia.
“Keunggulan biaya operasional, jika skema insentif khusus kendaraan nasional direalisasikan secara optimal, produk nasional dapat memiliki struktur harga yang mampu bersaing langsung di segmen pasar menengah-bawah,” kata Djoko.
Namun, Djoko juga menekankan bahwa keberhasilan program ini tergantung pada integrasi rantai pasok dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), terutama dalam lokalisasi produksi baterai dan komponen inti lainnya.
Di samping itu, layanan purna jual dan kepercayaan konsumen menjadi tantangan penting. Merek asing sering menghadapi masalah terkait ketersediaan suku cadang dan jaringan purna jual yang tidak stabil.
“Oleh karena itu, hal ini menjadi peluang bagi merek nasional untuk membangun kepercayaan konsumen melalui jaringan servis yang solid dan jaminan purna jual yang lebih baik,” ucapnya.
Djoko menambahkan bahwa keberhasilan program bergantung pada bagaimana pemerintah dan pelaku industri mengelola sejumlah variabel kunci. Program Motor Listrik Nasional juga berpotensi menjadi titik balik bagi industri otomotif Indonesia, memposisikan negara ini dari sekadar pasar konsumen menjadi produsen.
Program ini dapat memecah oligopoli pabrikan konvensional serta menahan laju dominasi elektrifikasi di era yang berkembang ini.





