Dunia

Dukungan publik AS untuk perang Iran anjlok, memicu guncangan pasar global!

Jakarta, Maret.id — Dukungan publik Amerika Serikat terhadap aksi militer terhadap Iran terus menurun menurut jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos yang dirilis pekan ini. Survei itu mencatat hanya 31 persen responden yang kini mendukung langkah militer, turun dari 37 persen pada Maret dan 34 persen pada survei sebelumnya bulan ini.

Dukungan Militer Turun di Seluruh Kelompok

Penurunan dukungan tidak hanya terlihat pada pemilih independen tetapi juga pada basis Partai Republik. Persentase pemilih Republik yang mendukung aksi militer turun menjadi 69 persen dari 77 persen pada Maret, sebuah penurunan signifikan yang memengaruhi angka nasional.

Perubahan sikap publik terjadi di tengah berlanjutnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Survei ini menunjukkan semakin banyak warga AS yang menaruh keraguan terhadap efektivitas opsi militer dalam menyelesaikan konflik.

Implikasi pada Tingkat Persetujuan Tokoh Politik

Hasil jajak pendapat juga mencerminkan tekanan politik terhadap figur publik terkait kebijakan luar negeri tersebut. Hanya 33 persen responden menyatakan menyetujui kinerja Donald Trump, angka yang sejajar dengan tingkat persetujuan terendah dalam rangkaian survei Reuters/Ipsos sebelumnya.

Penurunan angka persetujuan itu menjadi sinyal tantangan politik yang melebar, karena isu perang dan kebijakan terhadap Iran turut membebani citra tokoh-tokoh yang terkait dengan kebijakan tersebut. Analis politik menilai kombinasi faktor eksternal dan ketidakpastian kebijakan luar negeri memperkuat tren turun dalam preferensi publik.

Analisis Resiko Eskalasi dari Iran

Analis kebijakan luar negeri Trita Parsi menilai ada potensi Iran meningkatkan eskalasi sebagai respons terhadap sanksi baru yang diberlakukan Washington. Parsi mengatakan pola respons Teheran cenderung memilih antara mundur atau meningkatkan tindakan, tergantung tekanan yang dirasakan.

Menurut Parsi, jika sanksi ekonomi dirasakan cukup berat bagi rezim, langkah balasan yang lebih agresif menjadi kemungkinan, tetapi jika tekanan relatif terbatas dampaknya, respons Iran bisa tetap terkendali. Para pengamat menyebut pentingnya mengamati indikator ekonomi dan diplomasi untuk menilai kemungkinan eskalasi.

Pengamat keamanan juga mencatat bahwa opini publik yang melemah dapat membatasi ruang gerak pembuat kebijakan di Washington. Tekanan domestik yang meningkat membuat opsi militer menjadi lebih berisiko secara politik, terutama apabila dukungan dari basis partai mulai berkurang.

Masyarakat internasional dan pelaku pasar diperkirakan akan terus memantau perkembangan hubungan AS-Iran, karena setiap perubahan kebijakan atau peningkatan konflik berpotensi mempengaruhi stabilitas regional. Sementara itu, para diplomat disebut didorong untuk mencari jalur dialog alternatif guna meredam ketegangan yang ada.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button