BMKG

Jakarta, Maret.id — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Otorita Ibu Kota Negara (OIKN), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Pemerintah Kalimantan Timur (Kaltim) dalam melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC).
Operasi ini dilakukan untuk mengatasi defisit air di Waduk Sepaku dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menyatakan bahwa sebaran asap karhutla umumnya bergerak ke arah barat laut menuju timur laut, bahkan melintasi batas administratif ke Kalimantan Utara dan Sabah, Malaysia.
Menurut data per 20 Agustus 2026, Kaltim mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori Sangat Pendek hingga Panjang, dengan durasi terpanjang 28 hari berturut-turut di Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Paser.
“Modifikasi cuaca bukan membuat hujan, tetapi mengoptimalkan potensi awan yang tersedia. Apabila kondisi awan mendukung, penyemaian awan akan dilakukan sehingga mempercepat proses turunnya hujan,” jelas Budi di Kantor Gubernur Kaltim, Selasa, 25 Agustus 2026.
Otorita IKN melaporkan bahwa cadangan air di Waduk Sepaku, sebagai sumber air baku di wilayah IKN, terus menurun sejak bulan Juli akibat dampak El Nino.
BMKG mencatat jumlah titik panas di Kaltim pada periode 1-23 Agustus 2026 mencapai 13.273 titik, meningkat 35,5 persen dibanding periode yang sama tahun 2015, saat terjadi puncak musim kemarau disertai El Nino.
BMKG memantau potensi pertumbuhan awan di Kaltim pada 23–31 Agustus dengan potensi tinggi hingga sedang, terutama di bagian utara Kaltim. Namun, potensi pertumbuhan awan diperkirakan menurun pada 28–31 Agustus, yang berakibat pada cuaca kering di sebagian besar wilayah Kaltim.
Diharapkan terdapat potensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang di Kaltim bagian barat, barat laut, dan utara pada 24–26 Agustus. Pada periode 27 Agustus–1 September, diharapkan penurunan signifikan potensi intensitas dan sebaran hujan di sebagian besar wilayah Kaltim.
Pelaksanaan OMC ini mempertimbangkan tidak hanya jumlah titik api yang terdeteksi tetapi juga potensi hujan di wilayah sasaran.





