Prof Didik Kembangkan Strategi Berani Atasi Kutukan Ekonomi 5 Persen!

Jakarta, Maret.id — Perekonomian Indonesia saat ini menghadapi tantangan signifikan, dengan pertumbuhan yang stagnan di angka lima persen selama beberapa tahun terakhir. Untuk mengatasi fenomena ini, diperlukan kebijakan strategis di sektor ekspor yang mampu mendorong pertumbuhan industri.
Kebutuhan Kebijakan Ekonomi yang Tepat
Prof. Didik Junaidi, Rektor Universitas Paramadina, menjelaskan bahwa agar Indonesia bisa keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi yang stagnan di angka lima persen, perlu ada kebijakan terencana dan terfokus. “Kinerja ekspor yang maksimal sangat penting untuk mendorong pertumbuhan industri yang lebih tinggi,” katanya dalam wawancara dengan media, pada Minggu, 17 Mei 2026.
Ia menekankan pentingnya menciptakan iklim investasi yang menguntungkan untuk menarik minat investor asing. “Kita membutuhkan perhatian lebih dalam menarik investasi asing agar dapat mendukung perekonomian domestik dan sektor industri tumbuh berkembang dengan pesat,” ujar Prof. Didik.
Peran Sektor Industri dalam Perekonomian
Dalam gambaran yang lebih luas, Prof. Didik menyatakan bahwa sektor industri seharusnya berfungsi sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi. Namun, saat ini, sektor tersebut justru menunjukkan pertumbuhan yang rendah. “Kita tidak bisa berharap ekonomi tumbuh tinggi jika sektor industri tidak memberikan kontribusi signifikan,” papar pendiri Institute for Development Economics and Finance (INDEF) ini.
Kepastian hukum menjadi faktor kunci yang ia dorong untuk diterapkan. “Pemerintah harus dapat memberikan kepastian hukum bagi para pengusaha, baik yang berasal dari dalam negeri maupun asing. Ini penting untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif,” ujarnya.
Persaingan di Pasar Global
Prof. Didik menambahkan bahwa dengan iklim usaha yang baik, investasi asing akan lebih mudah masuk, dan kinerja ekspor juga dapat meningkat. “Ini adalah tanda bahwa produk-produk Indonesia dapat bersaing dan unggul di pasar internasional,” jelasnya.
Saat ini, lebih dari sebelumnya, penting untuk berinovasi dan meningkatkan daya saing produk lokal. Peningkatan produksi dan penciptaan lapangan kerja baru melalui sektor industri akan sangat berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Dengan pelaksanaan kebijakan yang tepat dan komprehensif, harapan untuk melihat pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat dan berkelanjutan di Indonesia bukanlah hal yang tidak mungkin. Para pemangku kepentingan perlu bersinergi untuk mencapai tujuan tersebut.
Prof. Didik Kasih: Jurus Keluar dari Kutukan Ekonomi 5 Persen
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami pertumbuhan ekonomi yang menggembirakan, dengan angka pertumbuhan sering kali berada di kisaran 5 persen. Meskipun tampak positif, angka ini juga mengundang perhatian dan kritik. Professor Didik Kasih, seorang ekonom terkemuka, baru-baru ini mengemukakan pemikirannya mengenai “kutukan ekonomi 5 persen” dan bagaimana negara ini bisa melangkah keluar dari situasi tersebut.
Memahami Kutukan Ekonomi 5 Persen
Istilah “kutukan ekonomi 5 persen” menggambarkan kondisi di mana ekonomi suatu negara tumbuh stabil pada tingkat 5 persen, tetapi tidak mampu menembus angka yang lebih tinggi dalam jangka waktu lama. Menurut Prof. Didik, pertumbuhan stagnan ini dapat mengakibatkan sejumlah masalah, seperti stagnasi dalam penciptaan lapangan kerja, kesenjangan sosial yang semakin lebar, dan keterbatasan dalam investasi jangka panjang.
Prof. Didik menjelaskan bahwa kutukan ini sering kali disebabkan oleh kurangnya inovasi, ketergantungan pada sumber daya alam, dan struktur ekonomi yang tidak berbasis pada teknologi yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat tidak mendapatkan manfaat maksimal dari pertumbuhan yang terjadi, yang pada akhirnya menimbulkan kesenjangan ekonomi yang lebih besar.
Strategi Keluar dari Kutukan
Untuk mengatasi masalah ini, Prof. Didik menawarkan beberapa strategi yang dapat diimplementasikan oleh pemerintah dan sektor swasta:
-
Investasi dalam Pendidikan dan Keterampilan: Prof. Didik berpendapat bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, investasi dalam pendidikan harus menjadi prioritas utama. Peningkatan kualitas pendidikan, khususnya dalam bidang sains, teknologi, dan keterampilan digital, sangat penting untuk menciptakan tenaga kerja yang siap menghadapi tantangan zaman.
-
Dukungan untuk Inovasi dan Start-Up: Prof. Didik mendorong pemerintah untuk memberikan dukungan lebih kepada start-up dan inovasi lokal. Dengan memfasilitasi akses permodalan dan jaringan, start-up dapat berkembang pesat dan menciptakan lapangan kerja, serta meningkatkan daya saing industri lokal.
-
Diversifikasi Ekonomi: Ketergantungan pada sumber daya alam harus dikurangi. Prof. Didik menekankan pentingnya diversifikasi sektor ekonomi, dengan pengembangan industri kreatif, teknologi informasi, pertanian berkelanjutan, dan pariwisata yang lebih inovatif.
-
Memperbaiki Infrastruktur dan Regulasi: Infrastruktur yang baik dan regulasi yang ramah bisnis sangat berpengaruh terhadap iklim investasi. Proyek infrastruktur yang efisien dan regulasi yang tidak berbelit-belit dapat menarik lebih banyak investasi baik domestik maupun asing.
-
Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Prof. Didik juga mengajak pemerintah untuk lebih memberdayakan ekonomi lokal. Pendekatan yang berbasis pada masyarakat akan membantu menciptakan pertumbuhan yang inklusif, di mana semua lapisan masyarakat merasakan manfaatnya.
Kesimpulan
Prof. Didik Kasih berpendapat bahwa keluar dari kutukan ekonomi 5 persen bukanlah hal yang mustahil jika ada kemauan dan tindakan yang tepat dari semua pemangku kepentingan. Dengan fokus pada pendidikan, inovasi, diversifikasi ekonomi, infrastruktur, dan pemberdayaan lokal, Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan. Dalam era globalisasi dan teknologi yang terus berkembang, langkah-langkah ini tidak hanya akan membantu negara ini keluar dari stagnasi, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera bagi semua.





