Eropa Ambil Sikap Terhadap Infantino Usai Kudeta Monaco

Jakarta, Maret.id — Dalam pertemuan darurat yang berlangsung di Monako bersamaan dengan undian kompetisi klub Eropa musim 2026/2027, sejumlah perwakilan asosiasi nasional berkumpul untuk membahas krisis yang terus melanda FIFA. Hadir dalam pertemuan itu adalah anggota Komite Eksekutif UEFA, anggota Dewan FIFA asal Eropa, serta presiden asosiasi nasional di bawah naungan UEFA.
Pembicaraan difokuskan pada dampak rencana presiden FIFA untuk menjual sebagian saham Piala Dunia kepada investor eksternal. Rencana tersebut dianggap sebagai “kesalahan penilaian yang parah, penyalahgunaan kekuasaan kepresidenan, dan konsep kepemimpinan yang tidak sejalan dengan tugas jabatan tertinggi di dunia sepak bola” kata pernyataan resmi.
Para peserta sepakat memberikan mandat kepada presiden UEFA dan jajarannya untuk menggunakan seluruh jalur kelembagaan, politik, dan hukum yang ada. Ini demi memastikan “reformasi mendasar, penerapan kembali pembatasan kekuasaan kepresidenan, dan menjamin bahwa FIFA dikelola sebagai institusi yang utuh, bukan hanya oleh satu individu”.
Dalam pernyataan tersebut, ditekankan perlunya “peninjauan eksternal yang independen dan menyeluruh atas program FIFA Forward”, di mana akses penuh ke seluruh dokumen dan pengambilan keputusan sangat diperlukan. “FIFA tidak bisa melakukan penyelidikan atas dirinya sendiri lalu berharap komunitas sepak bola begitu saja menerima hasilnya,” tegas pernyataan itu.
Runtuhnya kepercayaan terhadap presiden FIFA juga diungkapkan. “Kepercayaan untuk menjalankan jabatan presiden FIFA telah goyah, dan tidak dapat dipulihkan hanya dengan menarik satu proposal,” ujar pernyataan tersebut. Dunia sepak bola kini membutuhkan “kepemimpinan baru yang mampu membangun kembali kepercayaan tersebut”.
Sebagai ancaman serius bagi presiden saat ini, UEFA menegaskan bahwa jika presiden FIFA mencalonkan diri lagi, mereka akan bekerja sama dengan konfederasi lain untuk menyediakan alternatif yang tepercaya. “Alternatif ini berkomitmen pada integritas, akuntabilitas, dan perubahan kelembagaan yang sesungguhnya,” kata pernyataan itu.
Pernyataan tersebut juga mengungkap kontradiksi dalam argumen FIFA terkait kebutuhan investor. “FIFA saat ini memiliki cadangan dana miliaran dolar, dan itu adalah uang milik asosiasi anggota,” tulis UEFA. Pertanyaan muncul: “Mengapa presiden FIFA merasa perlu mendatangkan investor eksternal untuk memperluas pendanaan pengembangan?”
UEFA mengonfirmasi bahwa proyek “FIFA Forward Enterprise” telah “ditarik secara final dan tidak dapat ditarik kembali”. Setelah berkonsultasi dengan asosiasi nasional, UEFA menyetujui penangguhan penarikan diri tim nasional Eropa dari kompetisi FIFA untuk musim mendatang, termasuk Piala Dunia Wanita U-20 dan U-17, serta Piala Dunia Wanita U-17.
Dari perspektif lokal, komentator olahraga Indonesia, Darius Sinathrya, menekankan pentingnya transparansi dalam FIFA. “Jika kita ingin melihat sepak bola berkembang, kita perlu ketidakberpihakan dan tata kelola yang baik,” ujarnya. Penegakan integritas di dunia sepak bola menjadi sangat krusial, terutama untuk kepercayaan penggemar.





