Politik

Bursa Ketum PBNU Masih Terbuka, Gus Kikin dan Gus Rozin Unggul

Jakarta, Maret.id — Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang, Jawa Timur, pada Kamis, 27 Agustus 2026, belum mengerucutkan perebutan kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada satu nama.

Setelah forum resmi dimulai, diskusi mengenai calon pemimpin NU untuk periode mendatang semakin berkembang. Nama KY Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin serta KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin mencuri perhatian sejumlah kalangan.

Gus Kikin, yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, mendapatkan penilaian positif dari KH A. Junaidi Hidayat, Pengasuh Pondok Pesantren Al Aqobah International School (AIS) Jombang.

KH Junaidi menegaskan pentingnya pemimpin NU yang tidak hanya menguasai ilmu agama. “NU adalah organisasi besar,” kata KH Junaidi Hidayat.

Ia menilai kemampuan manajerial dan jaringan juga penting bagi Ketua Umum PBNU. Menurutnya, pengelolaan organisasi, ekonomi, pendidikan, serta pengembangan jaringan menjadi bagian tak terpisahkan dalam kebutuhan NU ke depan.

“Penguasaan di bidang agama saja tidak cukup,” tuturnya. KH Junaidi menganggap Gus Kikin memiliki segudang pengalaman yang dibutuhkan untuk posisi ini, baik dari lingkup pesantren maupun sektor usaha dan media.

“Dari latar belakangnya, saya melihat Gus Kikin punya kemampuan yang lebih utuh,” ujarnya. Penilaian itu muncul di tengah semakin berintensifnya pembahasan tentang kandidat Ketua Umum PBNU.

Sebelumnya, Gus Rozin juga menjadi figur penting dengan rekam jejak yang menarik perhatian. Gus Rozin memiliki perjalanan panjang dalam struktur kaderisasi NU, dengan pengalaman di berbagai organisasi seperti PP IPNU dan GP Ansor.

Pada 2024, Gus Rozin dipercaya sebagai Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah masa khidmah 2024-2029. Pengalaman tersebut membuatnya dinilai memiliki pemahaman yang luas mengenai organisasi dan pesantren.

Kedua nama itu kini bersaing dalam kontestasi yang dinamis. Gus Kikin memiliki dukungan kuat dari basis pesantren Tebuireng dan PWNU Jawa Timur, sedangkan Gus Rozin memiliki rekam jejak panjang dari proses kaderisasi hingga kepemimpinan PWNU Jawa Tengah.

Perbedaan latar belakang ini menjadikan pertarungan menuju kursi Ketua Umum PBNU semakin menarik. Peserta Muktamar dihadapkan pada berbagai pilihan dan pertimbangan mengenai kapasitas serta arah organisasi.

KH Junaidi berharap dinamika ini berlangsung dalam suasana yang sehat. Ia mengingatkan agar Muktamar tidak terjebak dalam pertarungan kepentingan yang dapat memecah persatuan warga Nahdliyin.

“Jangan sampai Muktamar terjebak pada pertarungan kepentingan,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa pemimpin PBNU mendatang harus siap menghadapi tantangan di abad kedua dengan memperkuat berbagai sektor.

Sektor ekonomi, pendidikan, dan manajemen organisasi pun perlu mendapatkan perhatian. Selain itu, NU juga dituntut memperkuat jaringan internasional dan gerakan sosial.

“NU membutuhkan kekuatan itu,” imbuh KH Junaidi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button