Politik

Muktamar NU: Transformasi Menuju Kepemimpinan yang Kuat

Jakarta, Maret.id — Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Didik Mukrianto, hadir dalam pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Didik menilai acara ini memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar pergantian kepengurusan lima tahunan. Ia menjelaskan bahwa Muktamar kali ini membawa lapisan makna historis, spiritual, dan organisatoris yang kuat, terutama karena dilaksanakan di Tambakberas yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dan perkembangan NU.

“Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama lebih dari sekadar pergantian pengurus lima tahunan. Forum ini membawa lapisan makna historis, spiritual, dan organisatoris yang dalam,” ujar Didik lewat akun X miliknya.

Ia berharap seluruh proses Muktamar dapat berlangsung sejuk, jujur, dan bermartabat. “Jika proses berjalan sejuk, jujur, dan bermartabat, Muktamar ke-35 akan menjadi sunnah hasanah. Jika tidak, ia berisiko menjadi preseden yang merusak kepercayaan jamaah,” imbuh Didik.

Didik menjelaskan bahwa agenda resmi Muktamar mencakup pemilihan kepemimpinan periode 2026–2031, pembahasan AD/ART, bahtsul masail, hingga penyusunan peta jalan perkhidmatan. Namun, ia menekankan bahwa substansi terpenting Muktamar bukan semata-mata mengenai siapa yang akan memimpin NU, melainkan tentang arah perjalanan NU sebagai rumah bersama.

“Makna terdalamnya terletak pada pertanyaan apakah NU tetap menjadi rumah bersama yang mengedepankan hubbul wathan minal iman, atau tereduksi menjadi perebutan kursi,” tuturnya.

Didik menilai pelaksanaan Muktamar di Tambakberas juga memberikan kesempatan bagi peserta untuk menengok kembali semangat para muassis atau pendiri NU. Menurutnya, kembali kepada semangat para pendiri bukan berarti membawa NU mundur ke masa lalu, tetapi menerjemahkan nilai-nilai yang diwariskan sesuai tantangan zaman.

“Muktamar ke-35 di Tambakberas adalah undangan untuk merawat warisan para pendiri di tanah yang sama tempat warisan itu tumbuh,” tegas Didik.

Ia menambahkan bahwa semangat tersebut perlu dibawa memasuki abad kedua NU dengan tata kelola organisasi yang lebih terlembaga, jujur, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi umat. “Kembali ke muassis bukan berarti mundur ke masa lalu, melainkan mengambil semangat awal kesalehan, kebangsaan, dan khidmah, lalu membawanya ke abad yang baru dengan cara yang lebih terlembaga, lebih jujur, dan lebih bermanfaat bagi umat,” pungkas Didik.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button