Dunia

Sara Netanyahu Digugat Mantan Pekerja, Memanas Ketegangan Diplomatik dan Tekanan Pasar!

Jakarta, Maret.id — Istri Perdana Menteri Israel, Sara Netanyahu, kembali menghadapi gugatan hukum yang menuduhnya melakukan pelecehan berat terhadap mantan pekerja rumah tangga yang mengabdi di kediaman resmi keluarga tersebut. Gugatan yang diajukan pada 25 Agustus 2026 ke Pengadilan Tenaga Kerja Regional Yerusalem menuntut ganti rugi sebesar 450.000 shekel atas dugaan perlakuan yang diduga berlangsung selama masa kerja 2023 hingga 2025.

Isi Gugatan dan Tuntutan

Penggugat, yang disebut bekerja di kediaman keluarga perdana menteri antara 2023 dan 2025, menyatakan mengalami jam kerja panjang termasuk lembur hingga 60–80 jam per bulan. Dalam petitum pengadilan, ia mengklaim perlakuan berupa penghinaan berkelanjutan, wajib membersihkan barang pribadi dan sepatu berulang kali, serta tekanan verbal yang menurutnya mencapai tingkat pelecehan ekstrem.

Rincian Tuduhan Pelecehan dan Rasial

Dalam pengakuannya, penggugat menyebutkan bahwa ia kerap diminta bekerja melewati awal Shabbat meskipun sudah menginformasikan mematuhi tradisi tersebut, dan perlakuan terhadapnya memburuk setelah mengalami masalah kesehatan berupa serangan jantung dan menjalani tindakan kateterisasi pada 2025. Ia juga menuduh Sara Netanyahu melontarkan ujaran yang bernada rasis, termasuk penghinaan yang menyebut asal-usul etnis penggugat secara merendahkan.

Reaksi Terhadap Surat Pengunduran Diri

Gugatan menegaskan bahwa ketika penggugat mengajukan surat pengunduran diri yang menyebutkan alasan perlakuan buruk, kantor Perdana Menteri menolak menerima redaksi itu dan meminta perubahan agar menyatakan alasan pribadi. Penggugat menyatakan tekanan tersebut menunjukkan upaya resmi untuk menutup alasan sebenarnya di balik pengundurannya.

Pembelaan Kantor Perdana Menteri dan Konteks Politik

Kantor Perdana Menteri membantah tuduhan tersebut dan menyebut laporan yang beredar sebagai informasi yang menyesatkan serta bermotivasi politik menjelang pemilihan umum yang akan digelar pada Oktober. Pernyataan resmi juga menyebut bahwa klaim itu merupakan upaya mencemarkan nama baik yang berkaitan dengan iklim politik saat ini.

Riwayat Kontroversi Serupa

Kasus baru ini menambah deretan tuduhan serupa terhadap Sara Netanyahu dalam beberapa tahun terakhir, termasuk gugatan dari mantan pekerja lain yang menuntut ratusan ribu shekel dengan klaim penghinaan berulang dan tindakan yang mempermalukan. Pada 2016, sebuah putusan pengadilan tenaga kerja di Yerusalem mengabulkan sebagian tuntutan seorang mantan penjaga terhadap kondisi kerja yang dinilai tidak adil dan memberikan ganti rugi finansial.

Pengaruh Sara Netanyahu dalam Lingkungan Politik

Sejumlah laporan dan pernyataan mantan pejabat mengemukakan bahwa Sara Netanyahu dianggap memiliki pengaruh signifikan dalam lingkup politik dan keputusan penunjukan jabatan tertentu. Mantan kepala staf yang memerhatikan dinamika internal pernah menyatakan bahwa peran Sara bagi sang Perdana Menteri kerap dipersepsikan sebagai bagian tak terpisahkan dari kebijakan dan keputusan politik keluarga pemimpin negara.

Kasus ini diperkirakan akan menjadi sorotan publik menjelang jadwal politik mendatang dan dapat memicu perdebatan luas tentang kondisi kerja domestik di lingkungan pejabat tinggi. Pengadilan akan memproses bukti dan kesaksian untuk menentukan apakah tuduhan tersebut memenuhi syarat ganti rugi yang diminta.

Aditya Permana

Jurnalis dan analis media digital yang berfokus khusus pada pelaporan sektor ekonomi, bisnis, dan finansial. Di maret.id, ia mendedikasikan perannya untuk mengulas dinamika pasar, kebijakan fiskal, perkembangan UMKM, hingga tren ekonomi makro global dan nasional. Dengan pendekatan yang tajam dan berbasis data, Aditya berkomitmen menyajikan informasi kompleks seputar dunia keuangan ke dalam ulasan yang mendalam, objektif, dan mudah dipahami oleh semua kalangan pembaca.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button