Politik

Di Balik Muktamar NU, Kisah Jedar dan Robert di Posko Baguna DPD PDIP Jatim

Jakarta, Maret.id — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, bukan hanya menjadi ajang diskusi formal. Di tengah keramaian, banyak cerita tentang ketulusan dan kepedulian.

Salah satu kisah datang dari Jedar, seorang pedagang UMKM asal Sidoarjo. Ia mengunjungi Posko Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan Jawa Timur pada hari terakhir Muktamar, Minggu (30/8/2026), karena mengalami sakit kaki.

“Alhamdulillah, kaki saya sudah membaik. Sempat sakit. Saya sangat senang ada posko PDI Perjuangan ini,” tutur Jedar.

Kehadiran posko kesehatan sangat berarti bagi banyak orang yang datang ke Jombang. Peserta dari berbagai daerah memenuhi lokasi, menjadikan layanan kesehatan sangat dibutuhkan.

“Tentunya banyak orang yang membutuhkan pertolongan darurat dalam situasi ini. Dan PDI Perjuangan memberikan gratis, dengan teman-teman panitia yang ramah,” tambahnya.

Cerita lain berasal dari Robert Alexander, seorang tukang potong rambut dari Prambon, Nganjuk, yang juga memanfaatkan layanan kesehatan gratis di posko setelah merasa linu pada tubuhnya. “Alhamdulillah ada pengobatan gratis di sini. Jadi saya yang linu dapat sehat. Semangat kerja, cari rezeki,” ucap Robert.

Kedua kisah ini mencerminkan bagaimana pelayanan dasar yang sederhana dapat mengubah pengalaman seseorang yang sedang sakit atau lelah.

Di tengah momentum Muktamar, kebutuhan akan tempat beristirahat dan layanan kesehatan meningkat. Posko Baguna PDI Perjuangan muncul sebagai salah satu solusi bagi mereka yang membutuhkan ruang untuk beristirahat.

Posko tersebut tidak hanya memberikan tempat beristirahat, tetapi juga menyediakan makanan, minuman, serta layanan kesehatan ringan yang semua tersedia secara gratis.

Pelayanan di posko berlangsung selama 24 jam, mulai dari 27 hingga 31 Agustus, untuk memenuhi kebutuhan dasar pengunjung Muktamar.

Wakil Ketua Bidang Keagamaan DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, KH Abdul Wahab Yahya, menjelaskan bahwa keberadaan posko menunjukkan kepedulian partai terhadap masyarakat yang hadir. “Orang yang datang dari jauh tentu membutuhkan tempat untuk berhenti sejenak. Kita siapkan ruang untuk beristirahat, makanan, minuman, sekaligus layanan kesehatan,” tutur Gus Wahab.

Ia menekankan, gotong royong tidak harus selalu dalam bentuk kegiatan besar. Tindakan sederhana juga dapat memberikan manfaat yang besar. “Agama mengajarkan kita untuk memuliakan tamu dan membantu orang lain,” imbuhnya.

Solahudin, Pengurus MWC NU Sedati, Sidoarjo, juga memberikan apresiasi kepada PDI Perjuangan. Ia berpendapat bahwa pelayanan tersebut mempertegas hubungan baik antara PDI Perjuangan dan NU. “Harapannya semoga kita dapat saling bergotong royong dalam mendukung kebaikan,” kata Solahudin.

Gus Wahab menekankan bahwa Muktamar seharusnya tidak hanya fokus pada gagasan yang dibicarakan, tetapi juga pada kesempatan untuk memperkuat persaudaraan. “Kita punya kesempatan untuk saling mengenal, saling membantu, dan saling menguatkan. Itu bagian dari kekuatan masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Bagi Jedar dan Robert, arti dari semua ini sangat sederhana: ketika sakit, ada yang membantu; ketika lelah, ada tempat untuk beristirahat. Di tengah kesibukan Muktamar, kebaikan seringkali hadir dalam bentuk yang paling sederhana.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button