Politik

Profil 9 Ulama AHWA Muktamar NU dan Pengaruhnya di PBNU

Jakarta, Maret.id — Sidang Pleno IV Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, resmi mengesahkan sembilan ulama sepuh sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Sembilan kiai kharismatik ini memegang mandat krusial untuk bermusyawarah menentukan posisi Rais Aam dan Ketua Umum PBNU masa khidmah 2026-2031.

Di antara anggota AHWA yang terpilih adalah Tgk H Nuruzzahri Yahya asal Aceh. Ia dikenal sebagai ulama yang mendirikan Dayah Ummul Ayman dan memiliki pengalaman panjang dalam organisasi NU.

KH Nurul Huda Djazuli, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah di Ploso, Kediri, juga terpilih. “Saya berkomitmen untuk terus memperkuat pendidikan di NU,” tegas Huda.

AGH Baharuddin HS dari Sulawesi Selatan, yang juga menjabat Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan, menekankan pentingnya keterlibatan pemuda dalam organisasi keagamaan. “Kita harus terus mendorong partisipasi generasi muda,” imbuh Baharuddin.

KH Miftachul Akhyar yang merupakan Rais Aam PBNU periode 2022-2027 juga masuk dalam jajaran AHWA. Kiai Miftach dikenal luas di kalangan masyarakat atas dedikasinya terhadap pendidikan agama.

Sementara itu, KH Afifuddin Muhajir dari Situbondo menekankan perumusan metode yang relevan dalam konteks kebangsaan. “Kita perlu memikirkan solusi untuk menjaga harmoni dalam berbangsa,” tutur Kiai Afif.

KH Anwar Iskandar, Ketua Umum MUI terpilih periode 2025-2030, mengklaim pentingnya sinergi antara ulama dan masyarakat dalam menghadapi tantangan zaman. “Dialog dan kolaborasi harus diutamakan,” tegas Anwar.

Kemudian KH M Anwar Manshur, pengasuh utama Pesantren Lirboyo, mengingatkan akan pentingnya warisan keilmuan dan tradisi untuk generasi selanjutnya. “Kita harus menjaga dan mengembangkan ilmu agama,” kata Kiai Anwar.

KH Said Aqil Siroj, mantan Ketua Umum PBNU dua periode, kembali dipilih ke dalam AHWA. “Saya bersyukur bisa kembali berkontribusi di NU,” sambung Kiai Said.

Terakhir, KH Abun Bunyamin dari Purwakarta menegaskan pentingnya penguasaan ilmu agama yang mendalam. “Ilmu itu harus terus dicari dan diamalkan,” tutup Kiai Abun.

Keputusan ini menunjukkan komitmen kuat NU untuk terus berperan sebagai pilar penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menyediakan arah dan bimbingan bagi umat Islam di Indonesia.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button