Abatantuono Pindah Dukungan dari Milan ke Como dan Tak Kenal Amorim

Jakarta, Maret.id — Diego Abatantuono, aktor terkenal yang memiliki kecintaan mendalam terhadap sepak bola, berbagi pandangannya dalam wawancara dengan Gazzetta.it, terutama mengenai situasi terkini di AC Milan.
Ia mengawali pembicaraan dengan menyebut kunjungan Gerry Cardinale ke Milanello yang mengingatkan pada Silvio Berlusconi. “Satu-satunya hal yang mereka punya bersama adalah helikopternya. Titik. Untuk saat ini saya tidak melihat hal lain,” kata Abatantuono.
Saat ditanya tentang ketidakpuasannya terhadap AC Milan saat ini, ia mengungkapkan rasa khawatir akan kepemilikan tim yang kini berjalan di bawah manajemen korporasi. “Sebuah fund tidak bekerja demi kepentingan para seniman, tetapi tim ini milik para suporter… Dalam diri Cardinale dan Ibrahimovic, saya tidak pernah melihat mereka bekerja demi kepentingan AC Milan,” ujar Abatantuono.
Pernyataan ini muncul setelah kepergian Stefano Pioli dan Paolo Maldini dari klub, yang menurutnya menunjukkan perubahan signifikan dalam cara manajemen tim. “Sejak saat itu datang figur-figur korporat, mungkin juga kompeten, tetapi mereka adalah orang-orang yang ikut bermain, tahu bahwa mereka akan bertahan di sana hanya setahun atau sedikit lebih lama,” tambahnya.
Dia juga ditanya tentang bagaimana AC Milan bisa menarik kembali dukungan penggemar. “Dengan bermain bagus dan melakukan apa yang menjadi kepentingan para suporter,” tegasnya.
Abatantuono turut menyoroti bursa transfer AC Milan, menyatakan keraguannya terhadap pemain baru seperti Amorim. “Amorim ini belum pernah saya dengar seumur hidup saya. Kita lihat saja bagaimana mereka bergerak sepanjang musim,” ujarnya, merujuk pada perjalanan tim yang harus diperhatikan lebih dalam.
Saat ditanya tentang klub yang didukungnya, ia mencurahkan dukungannya untuk Como. “Saya telah menjadi pendukung mereka. Saya suka permainannya, saya suka pelatihnya,” ungkapnya. Ia juga menyampaikan harapannya agar para pemilik klub yang kaya dapat memberikan kontribusi bagi komunitas.
“Kalau mereka punya 100 miliar, 50 di antaranya dibagikan saja. Anda bisa melakukannya dengan membangun rumah sakit, sekolah, atau membuat satu basis suporter bahagia,” ujar Abatantuono. Ini menunjukkan kepeduliannya tidak hanya pada sepak bola, tetapi juga pada kesejahteraan masyarakat.
Komentar Abatantuono membuat penggemar sepak bola Indonesia, yang mengamati perkembangan AC Milan, merasa prihatin. Banyak dari mereka berharap tim kesayangan akan segera kembali ke jalur kemenangan dan menjalankan prinsip yang lebih mendukung para suporter.





