Politik

Tiga Ayat Al

Jakarta, Maret.id — Nahdlatul Ulama (NU) mengumumkan langkah strategis untuk memperkuat posisinya memasuki abad kedua, dengan fokus pada kemandirian ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menyampaikan bahwa pijakan ini berlandaskan pada tiga ayat Al-Qur’an yang akan menjadi pedoman bagi gerakan dan program NU ke depan.

Dalam penutupan Muktamar Ke-35 NU, yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kiai Miftach mengungkapkan, “Ada tiga ayat yang merupakan dasar pijakan kita untuk mengembangkan, terutama di bidang-bidang ekonomi yang saat ini memang mayoritas masyarakat Indonesia tergolong minal fuqara’ wal masakin (kaum fakir dan miskin),” ujar Kiai Miftach.

Ia menjelaskan bahwa tiga ayat tersebut menjadi landasan penting bagi NU untuk memfokuskan gerakan pada kemandirian ekonomi dan pemulihan ekologi. Landasan pertama adalah Surat Al-Baqarah ayat 30, yang menegaskan manusia sebagai khalifah fil ardh atau pengelola bumi.

“Khalifah itu artinya yang mengurus bumi, yang membuat peraturan dan tata tertib agar kehidupan menjadi teratur,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa dalam tata kelola yang baik, tidak boleh ada orang kaya yang menganiaya si miskin dan sebaliknya.

Landasan kedua berasal dari Surat Hud ayat 61, yang mengandung perintah untuk memakmurkan bumi. “Pemakmuran tersebut menuntut pengerahan potensi akal, pengetahuan, dan tindakan nyata, termasuk untuk memulihkan ekologi,” papar Kiai Miftach.

Ia menjelaskan bahwa upaya untuk menghijaukan kembali sawah ladang dan menyiapkan persediaan pangan merupakan bagian dari tanggung jawab pemakmuran bumi. “Rakyat hanya bisa merasakan kesejahteraan jika ada upaya sekuat tenaga mengerahkan pikiran untuk menyejahterakan umat,” tegasnya.

Landasan ketiga bersumber dari Surat Adz-Dzariyat ayat 56, yang menekankan bahwa seluruh aktivitas manusia dalam menjalankan tugas kekhalifahan dan membangun ekonomi harus bermuara pada nilai ibadah. “Semua harus bernilai ibadah,” tambahnya.

Kiai Miftach kemudian menyoroti pentingnya menekankan sektor ekonomi di awal abad kedua NU, berlandaskan pada kondisi masyarakat yang masih menghadapi kemiskinan. “Tiga ayat ini menjadi dasar program di awal abad kedua ini agar Nahdlatul Ulama betul-betul sejahtera ekonominya,” tuturnya.

Ia optimis, penguatan fondasi ekonomi yang berlandaskan ketiga ayat Al-Qur’an dapat membawa NU dan seluruh warga Nahdliyin menjadi bagian penting dalam mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bangsa pada era baru.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button