Olahraga

Serangan Senegal Terhadap Maroko Diragukan Regragui

Jakarta, Maret.id — Sebuah media asal Senegal, SeneNews, baru-baru ini menyerang Walid Regragui, mantan pelatih kepala tim nasional Maroko. Mereka menuduhnya berusaha memengaruhi opini publik menjelang keputusan final Piala Afrika 2025 yang tengah ditangani oleh Mahkamah Arbitrase Olahraga (CAS).

Dalam laporan berjudul “Final Piala Afrika 2025: Rencana Mencurigakan Walid Regragui Melawan Senegal Sebelum Putusan Mahkamah Olahraga”, situs tersebut mengecam kemunculan Regragui di berbagai media, yang dinilai sebagai upaya untuk melawan Senegal melalui narasi media. “Regragui berusaha untuk menciptakan citra bahwa Maroko lebih berhak meraih gelar juara,” kata SeneNews.

Regragui baru-baru ini muncul di sebuah podcast dan program “Canal Football Club”, di mana ia menggunakan platform ini untuk menyampaikan pandangannya. Media tersebut mencurigai bahwa pernyataan-pernyataan Regragui bertujuan untuk membentuk opini publik sebelum keputusan akhir dari mahkamah olahraga. “Kehadirannya yang berulang di media jelas sebuah strategi,” kata laporan itu.

SeneNews menggarisbawahi pernyataan Regragui yang mengajak pendukung Maroko untuk melancarkan sorakan kepada timnas Senegal menjelang pertandingan. Laporan ini menilai ajakan tersebut semakin memperkeruh suasana yang mengelilingi final.

Di babak final yang berlangsung pada 18 Januari 2026, Senegal berhasil mengalahkan Maroko dengan skor tipis 1-0. Gol Pape Gueye di babak tambahan menjadi penentu kemenangan, setelah laga diwarnai kontroversi penalti untuk Maroko yang tidak berhasil dieksekusi oleh Brahim Diaz.

Situasi semakin memburuk ketika Komite Banding Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) pada Maret 2026 secara mengejutkan membatalkan hasil pertandingan, menyatakan Senegal kalah karena mengundurkan diri dan menetapkan hasil 3-0 untuk Maroko. “Keputusan ini mengundang ketidakpuasan di pihak Senegal,” tutur SeneNews.

Federasi Sepak Bola Senegal tidak menerima keputusan tersebut dan resmi mengajukan banding ke Mahkamah Arbitrase Olahraga pada 25 Maret 2026. Mereka ingin keputusan CAF dibatalkan dan Senegal diakui sebagai pemenang turnamen.

Kepastian mengenai perkara ini masih dinanti, sementara Mahkamah Olahraga telah merencanakan sidang pada 8 Oktober 2026. “Kami berharap keadilan dapat ditegakkan,” ujar seorang penggemar sepak bola dari Senegal.

Reaksi dari penggemar sepak bola Indonesia juga tak kalah bersemangat. “Situasi ini sangat menarik untuk disimak. Semua pihak berharap keputusan akhir mampu menjaga integritas sepak bola Afrika,” kata Benny, seorang analis sepak bola lokal.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button