Pakar Ragukan Klaim Trump, Memanas Ketegangan Iran dan AS, Risiko Pasar Energi!

Jakarta, Maret.id — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang dengan Iran akan berakhir “segera” setelah pemilu sela AS pada November mendatang.
Pernyataan itu memicu reaksi beragam dari kalangan pengamat yang menilai klaim tersebut lebih menyerupai harapan politik ketimbang target yang realistis.
Respons Pengamat
Alex Vatanka, Senior Fellow di The Middle East Institute, mempertanyakan dasar pernyataan Presiden Trump dan mengingatkan bahwa kalender politik AS tidak otomatis menentukan akhir konflik lintas-batas.
Vatanka menilai sulit membayangkan Iran akan menjadikan hasil pemilu kongres AS pada 3 November sebagai faktor utama dalam menentukan sikap strategis Teheran.
Konteks Diplomasi dan Isu Utama
Menurut Vatanka, Teheran kemungkinan lebih menunggu hasil diplomasi yang bisa dipersepsi sebagai keuntungan bagi kepentingan nasionalnya, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz dan masa depan program nuklir Iran.
Isu-isu teknis seperti jaminan keamanan pelayaran, pembatasan program nuklir, serta mekanisme verifikasi menjadi kunci yang harus dibicarakan agar negosiasi dapat menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama.
Syarat Politik untuk Mengakhiri Konflik
Pengamat itu menegaskan bahwa perang hanya dapat benar-benar berakhir jika Amerika Serikat dan Iran kembali ke meja perundingan dan mampu menemukan titik temu yang dapat diterima kedua belah pihak.
“itu hanya akan berubah jika negosiasi dilanjutkan; kedua pihak mungkin harus bersedia menemukan titik temu. Begitulah cara mengakhiri perang ini untuk selamanya,” ujar Vatanka.
Tekanan Ekonomi dan Realitasnya
Pernyataan Presiden Trump juga mengisyaratkan harapan bahwa sanksi dan tekanan ekonomi Washington akan memaksa Iran untuk menyerah atau meredakan konfrontasi.
Vatanka mengingatkan strategi tersebut sejauh ini lebih bersifat harapan politik karena belum ada kepastian bahwa tekanan ekonomi semata akan mengubah kebijakan Teheran.
Para analis menggarisbawahi bahwa perubahan perilaku sebuah negara dalam konflik berskala regional sering kali dipengaruhi oleh kombinasi insentif diplomatik, tekanan ekonomi, dan pertimbangan keamanan domestik.
Dalam banyak kasus, negosiasi yang komprehensif dan langkah-langkah verifikasi menjadi prasyarat untuk menciptakan kondisi stabil yang dapat menutup babak konflik secara permanen.
Selain itu, dinamika politik domestik di kedua belah pihak — termasuk tekanan dari faksi militer dan politisi garis keras di Iran serta pertimbangan elektoral di AS — dapat memperumit upaya mediasi.
Para pakar menyarankan bahwa tanpa adanya kanal komunikasi yang jelas dan kompromi substantif, klaim jangka pendek mengenai “akhir perang” berisiko menjadi janji kosong yang menimbulkan ekspektasi publik yang tidak realistis.
Penting juga dicatat bahwa wilayah seperti Selat Hormuz memiliki implikasi ekonomi global sehingga setiap perubahan signifikan dalam status keamanan kawasan akan berdampak luas.
Oleh sebab itu, pengamat menilai langkah-langkah diplomatik multilateral dan keterlibatan aktor regional kerap diperlukan untuk mencapai solusi yang tahan lama.
Sampai saat ini, belum ada indikasi jelas bahwa kedua pihak telah menyetujui format negosiasi yang dapat dengan cepat menuntaskan serangkaian isu kompleks tersebut.
Sementara itu, retorika politik di dalam negeri masing-masing pihak kemungkinan akan terus mempengaruhi kecepatan dan substansi langkah-langkah selanjutnya.
Para pemantau mengatakan publik dan komunitas internasional tetap harus mengawasi perkembangan negosiasi karena konsekuensi keamanan dan ekonomi dari konflik ini cukup besar.
Kesimpulannya, meskipun pernyataan tentang akhir yang “segera” menyita perhatian, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak prasyarat harus dipenuhi sebelum konflik dengan Iran dapat benar-benar dinyatakan berakhir.





