China Gelar KTT BRICS ke

Jakarta, Maret.id — Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping menyatakan kesiapan China untuk mengambil alih kepemimpinan BRICS dan menyusun agenda yang mendukung pembangunan negara-negara Global South. Pernyataan itu disampaikan dalam sesi pembukaan KTT BRICS ke-18 yang digelar di New Delhi.
China Siap Menjadi Ketua BRICS
Xi menyatakan China akan mengambil alih keketuaan BRICS pada tahun berikutnya dan menjadi tuan rumah pertemuan puncak ke-19. Ia menegaskan momentum tersebut akan dimanfaatkan untuk membangun konsensus dan membuka babak baru kerja sama antaranggota.
Menurut Xi, 2026 akan menjadi peringatan 20 tahun kerja sama BRICS yang telah berkembang menjadi wadah paling berpengaruh bagi negara-negara berkembang. Ia menyebut BRICS telah menunjukkan hasil nyata dalam menghadapi krisis keuangan, pandemi COVID-19, perubahan iklim, dan tantangan global lainnya.
Agenda Dasawarsa Emas dan Multipolaritas
Pemimpin China itu menyatakan ambisi untuk memulai “era Dasawarsa Emas ketiga” dalam kerja sama BRICS guna mendorong kemakmuran bersama. Xi juga mengingatkan bahwa kekuatan Selatan Global semakin kuat dan proses multipolarisasi dunia terus berlangsung.
Namun ia memperingatkan sekaligus tentang meningkatnya praktik unilateralisme dan politik kekuasaan yang menurutnya mengancam tatanan internasional. Xi meminta anggota BRICS untuk berdiri teguh serta mengarahkan tatanan global ke arah yang lebih adil dan rasional.
Empat Usulan untuk BRICS
Dalam pidatonya, Xi menyatakan telah mengajukan empat usulan strategis untuk memperkuat kerja sama BRICS dan mempercepat pembangunan negara-negara berkembang. Tiga usulan yang dipaparkan meliputi pendorongan pembangunan inovatif, penguatan perdamaian dan stabilitas, serta meningkatkan pertukaran antarkebudayaan dan pembelajaran peradaban.
Usulan pertama memfokuskan pada inovasi, termasuk Inisiatif BRICS untuk pemberdayaan industrialisasi baru berbasis kecerdasan buatan (AI). China menawarkan kerja sama penelitian, pengembangan, penerapan teknologi, serta integrasi rantai industri dan rantai pasok antarnegara anggota.
Usulan kedua menekankan peran BRICS dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional dan global. Xi menyinggung situasi di Teluk dan Timur Tengah yang masih dinamis serta menimbulkan dampak besar bagi masyarakat setempat dan kepentingan bersama internasional.
Pada poin perdamaian, Xi menegaskan bahwa penyelesaian masalah Palestina merupakan inti persoalan Timur Tengah dan mendesak pelaksanaan solusi dua negara sebagai jalan menuju hidup berdampingan secara damai antara Palestina dan Israel. Usulan ketiga mengajak penguatan Forum Pertukaran Antarmasyarakat BRICS dan kerja sama di bidang kebudayaan, pariwisata, pendidikan, serta tata kelola negara.
Relevansi bagi Negara Berkembang
Xi menggambarkan BRICS sebagai barisan terdepan negara-negara Selatan Global yang mendorong kemandirian dan jalur pembangunan masing-masing. Ia menilai anggota BRICS seharusnya menjadi contoh bagi negara berkembang lain dalam bersatu dan memperkuat kapasitas domestik.
Dalam perspektif Xi, penguatan kerja sama antarnegara berkembang melalui BRICS bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga soal memberi suara lebih kuat bagi kepentingan negara-negara Selatan di tatanan internasional. Ia mengajak anggota untuk memanfaatkan mekanisme BRICS demi hasil yang lebih berkelanjutan dan merata.
KTT BRICS ke-18 di New Delhi menjadi panggung bagi berbagai pernyataan strategis menjelang transisi kepemimpinan ke China. Pergantian kursi ketua dipandang sebagai momen penting untuk menetapkan arah baru kerja sama di kawasan Selatan Global.





